Psikologi Politik
Psikologi politik adalah cabang ilmu yang menggabungkan prinsip-prinsip psikologi dengan analisis proses politik untuk memahami perilaku individu dan kelompok dalam konteks politik. Berikut adalah deskripsi singkat untuk segmen kategori utama dalam psikologi politik, berdasarkan literatur akademik:
1. **Identitas Politik dan Dinamika Kelompok**:
Fokus pada bagaimana identitas sosial, seperti afiliasi partai atau ideologi, membentuk sikap dan perilaku politik. Teori identitas sosial (Tajfel & Turner, 1979) menjelaskan loyalitas terhadap kelompok politik, polarisasi, dan konflik antar-kelompok. Segmen ini mengeksplorasi mengapa individu tetap mendukung pemimpin atau kebijakan meskipun bertentangan dengan fakta.
2. **Proses Kognitif dan Pengambilan Keputusan**:
Menganalisis bagaimana bias kognitif (misalnya, bias konfirmasi, disonansi kognitif) memengaruhi persepsi terhadap informasi politik. Studi seperti Nyhan & Reifler (2010) menunjukkan bahwa individu cenderung menolak fakta yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka, memengaruhi pilihan politik dan dukungan terhadap pemimpin.
3. **Emosi dan Narasi Politik**:
Meneliti peran emosi (ketakutan, kemarahan, harapan) dalam membentuk opini publik dan respons terhadap kampanye politik. Dalam konteks post-truth, narasi emosional sering kali lebih kuat daripada fakta, seperti dijelaskan oleh Swire-Thompson & Lazer (2020).
4. **Kepemimpinan dan Persepsi Otoritas**:
Mengkaji bagaimana karisma, otoritarianisme, atau persepsi otentisitas pemimpin memengaruhi dukungan publik. Hahl et al. (2018) menunjukkan bahwa pemimpin yang dianggap “menentang sistem” sering kali tetap didukung meskipun berbohong, karena dianggap mewakili “kebenaran yang lebih dalam”.
5. **Media dan Komunikasi Politik**:
Menelusuri dampak media, termasuk media sosial, dalam membentuk persepsi politik dan menyebarkan misinformasi. Segmen ini juga membahas desensitasi terhadap kebohongan akibat paparan berulang, sebagaimana dianalisis dalam literatur post-truth.
Psikologi politik menggunakan metode empiris, seperti eksperimen, survei, dan analisis kualitatif, untuk memahami interaksi antara pikiran manusia dan sistem politik. Bidang ini relevan untuk menjelaskan fenomena seperti polarisasi, populisme, dan ketahanan dukungan terhadap pemimpin kontroversial.