Bulan: Maret 2018

Maret

Menjalin Hubungan Tanpa Status

Tanya Jawab

Nama : Diana

Pertanyaan:

Saat ini saya sedang memiliki hubungan tanpa status dengan seorang pria selama setahun. Selama setahun ini saya pernah melakukan petting, fingering, dan kissing dengannya. Kami mengakui bahwa hasrat seksual kami besar dan kami tidak dapat menahannya. Pria ini adalah pria pertama yang membuat saya nyaman, sedangkan dia telah melakukan hubungan seksual secara intim pada beberapa wanita sebelum bertemu dengan saya. Saya memiliki ketakutan apakah saya beresiko terkena IMS, apakah saya baik untuk melanjutkan hubungan dengannya, apakah saya akan menikah dengannya, dan apakah saya harus membuka aib pada masing-masing orang tua kami? Pemikiran pemikiran negative kerap muncul pada diri saya selama setahun ini. Tidak pernah menjalani hubungan seperti ini sebelumnya membuat saya pernah menarik diri dari pergaulan sosial. Saat ini saya masih berhubungan baik dengannya, masih saling mensupport, tidak mencari pasangan lain, dan membayang kan masa depan bersama. Sejujurnya saya ingin melanjutkan hubungan serius dengannya sebab saya melihat ada perubahan yang lebih baik dengannya selama menjalani hubungan dengan saya. Namun, saya berasal dari latar belakang keluarga jawa dan islam, sehingga saya memikirkan akan dosa dan bibit bebet bobot nya kelak. Sudah setahun ini saya memikirkan hal ini terus menerus hingga saya menjadi overthinking, pemarah, dan kurang fokus dalam beraktivitas. saya mohon bantuannya untuk menemukan solusi atas permasalahan saya ini, trimakasih banyak.

 

Jawaban:

Selamat siang Diana,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah mempercayakan permasalahan anda dan menghubungi Psikologi Online.

Menjalin hubungan tanpa status sebenarnya adalah hal yang beresiko karena tidak ada komitmen dalam hubungan tersebut, salah satu pihak bisa saja meninggalkan pihak yang lainnya atau dengan mudah berpaling ke yang lain karena tidak adanya komitmen yang mengikat, tentu hal ini akan memberikan kerugian terutama bila gaya pacaran atau kedekatan sudah tidak sehat atau mengarah pada perilaku seksual. Gaya pacaran yang tidak sehat akan memberikan beban psikis, Pertama, sebagai orang yang beriman kita paham bahwa pacaran adalah perbuatan yang dilarang agama apalagi perilaku seksual sebelum menikah, biasanya pelaku akan mengalami kecemasan moralitas, dimana terjadi rasa khawatir atau cemas karena telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan kata hatinya atau nilai-nilai moral. Kecemasan ini bisa muncul secara tiba-tiba dan membuat yang bersangkutan merasa bersalah. Umumnya ketika cemas, individu menjadi tidak fokus, bingung, marah, kesal, dan tidak nyaman.  Nah bila kita lihat lagi, sepertinya dari cerita Diana, kamu mulai mengalami kecemasan moralitas karena melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hati nurani kamu.
Kedua, bertentangan dengan budaya. Kita hidup dalam budaya timur, dimana perempuan dituntut untuk bersikap sopan, santut baik tutur kata maupun tindak tanduknya, sehingga gaya pacaran atau kedekatan yang tidak sehat biasanya dianggap sebagai perilaku yang tidak sesuai budaya hal ini tentu akan memberikan pengaruh pada cara pandang masyarakat terhadap nilai diri kita, masyarakat akan menganggap diri kita rendah dan pelaku pun akan merasa berjarak dari lingkungan karena melakukan hal yang tidak sesuai norma perilaku normal di masyarakat sehingga muncul perasaan kesenjangan diri dengan lingkungan sosial. Kondisi ini bisa mempengaruhi rasa percaya diri dan penarikan diri pelaku untuk bersosialisasi di lingkungan.
Ketiga, perilaku seksual yang tidak tepat tentu dapat memberikan peluang tertularnya penyakit seksual atau infeksi menular seksual(IMS) selain HIV karena HIV hanya akan tertular jika terjadi pertukaran cairan atau darah dengan penderita. Ketika melakukan petting, kissing, dan fingering terjadi sentuhan kulit sehingga berbagai bakteri dapat berpindah ke tubuh anda, apalagi teman dekat kamu sering berganti-ganti pasangan maka semakin besar resiko untuk tertular IMS karena kondisi kesehatan dan kebersihan pasangan tidak diketahui apakah ia bebas dari penyakit tertentu.
Diana yang baik, jika kita telaah lagi berbagai resiko yang muncul baik karena gaya pacaran yang tidak sehat maupun menjalin hubungan tanpa status sepertinya banyak dampak negatifnya, iya kan? oleh sebab itu akan lebih baik bila Diana mulai menjalin hubungan yang sehat.

Sebenarnya perilaku kissing, peeting dan fingering adalah awal dari aktifitas seksual, biasanya individu yang memiliki kebutuhan seksual tinggi akan merasa frustasi ketika kebutuhannya tersebut tidak terpenuhi, sehingga mereka akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, oleh sebab itu perlu usaha ekstra apabila Diana ingin mengubah perilaku teman kamu tersebut, dan yang penting ia pun memiliki niat untuk menekan kebutuhan seksualnya, karena apabila hanya Diana yang memiliki tekad tentu ia akan sulit untuk berubah. Jika ingin tetap melanjutkan hubungan dengan dia, Diana perlu menimbang faktor kemungkinan terburuk yang akan terjadi keesokan hari dari perilakunya saat ini karena perilaku sekarang bisa menjadi indikator perilaku seseorang dikemudian hari, walaupun tidak menutup kemungkinan ia bisa berubah menjadi lebih baik asalkan ada tekat dan usaha yang kuat.

Semoga jawaban saya dapat membantu

Salam Hangat,

Hidup Berubah Setelah Ditinggal Ayah dan Suami

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Nama/Inisial: K

Usia: 27 Tahun

Domisili: Surabaya

Assalamu’alaikum
Saya seorang wanita single parent dan punya satu anak laki2 masih balita.Saya mengalami banyak perubahan dalam hidup saya terutama setelah banyak kejadian/peristiwa yang membuat saya trauma di masa lalu.Saya sekarang merasa sering berubah keinginan, terus saya sering bicara sendiri kadang didalam hati atau bicara ketika beraktivitas.Saya gampang menangis karena sensitif ketika orang menyindir atau menyinggung saya, saya tidak bisa sabar jadi saya langsung balas omongan orang yang menyakiti hati saya sebagai pembelaan.Saya juga suka sekali dengan tidur sampai tetangga bully saya dan tidak suka dengan saya yang banyak tidurnya.Saya suka menunda waktu dan malas mandi.Entah kadang saya tidak bisa mengendalikan diri saya ketika marah dan emosi juga kadang aktivitas saya sehari hari terganggu dengan kemalasan saya dan ketidakmampuan saya untuk “bangkit” menjalankan kewajiban seperti sholat atau aktivitas lainnya seperti mandi nyuci dll.Saya sering sedih sendiri ketika saya teringat kejadian yang buruk dan merasa kasihan pada diri saya sendiri.Saya sering marah dan membantah orang tua setelah perceraian karena saya menikah karena paksaan dari ibu saya juga dengan kondisi kesehatan yang buruk serta belum siap fisik dan mental.Ketika masa perceraian saya mendapat banyak bullyan dan sikap yang buruk dari keluarga dan lingkungan sekitar.Saya jadi menyalahkan kondisi saya kepada ibu saya.Saat itu saya depresi berat dan tidak keluar rumah lama, cuma 1 bulan 1-3 kali hanya untuk belanja kebutuhan anak di mall.Sampai sekarang saya jadi anti sosial dan tidak mau keluar rumah walaupun dalam hati ingin terkena sinar matahari pagi tapi saya takut dengan apa kata orang.Tetangga saya setiap hari selalu buat masalah dengan kata katanya yang mulai menyindir dan menyinggung saya, saya jadi stress dan kadang tidak mau makan malah sering ngomel ngomel dan marah karna tidak terima dengan kata katanya.Saya mengalami kesulitan mengendalikan diri tapi saya masih bisa berfikir logis dan membuat saran terhadap diri sendiri serta mencari jalan keluar dari masalah saya sendiri.Saya merasa harusnya saya dari dulu tidak tinggal di kampung ini, karena selain pengarai orang disini banyak yang kurang baik juga disini banyak kejadian yang membuat saya trauma.Saya berinisiatif untuk ke pondok pesantren juga karena saya ingin bisa sembuh secara mental dan fisik saya.Saya ingin fokus dengan diri saya sendiri, saya rasa menyenangkan kalau saya punya waktu belajar sendiri tapi sayang keluarga saya tidak mengerti dan tidak kasihan dengan saya.Saya pernah merasa seperti orang gila ketika ayah saya meninggal dunia, saya depresi dan benar benar berubah sikap saya 180 derajat, saya sangat pendiam setiap hari diam sedih dan nangis, lalu menyalahkan diri sendiri kalau saya membunuh ayah saya padahal itu semua karena kakak saya yang menyalahkan jadinya saya yang sangat sedih ditinggal ayah tercinta, ketika disalahkan seperti itu ke saya, saya jadi down dan sering menyalahkan dan menyakiti setiap kesalahan sekecil apapun jadi besar sampai saya pernah hampir bunuh diri.Ketika saya depresi saya sering berpikir untuk mati saja, seakan kesalahan saya tidak bisa dimaafkan sekecil apapun itu.Saya sering merasa bersalah sendiri.Maaf kalau curhatannya terlalu panjang.Kira kira saya punya penyakit psikologis apa ya? Lalu bagaimana jalan keluar dari masalah saya dalam hal ini apakah saya butuh perawatan atau butuh obat obatan khusus atau pindah tempat tinggal ? Mohon bantuan saran.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

Jawaban:

Walaikumsalam, WrWb

Selamat malam Mbak K yang selalu berbahagia dimana pun berada

Terima kasih banyak sudah mempercayakan permasalahan Mbak K ke Psikologi Online. Saya turut simpati dengan peristiwa yang dialami oleh anda pertama peristiwa meninggalnya ayahanda dan kedua perceraian dengan suami, saya paham tidak mudah untuk menerima kehilangan orang yang dicintai apalagi orang tua sendiri. Jika K masih merasa sedih dan menyalahkan diri sendiri atas meninggalnya ayahanda, ini menunjukan K masih dalam tahap anger atau kemarahan, ditahap ini seseorang akan menyalahkan dirinya sendiri maupun orang lain atas meninggalnya seseorang. Untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel mengenai dukacita di https://psikologionline.com/2018/02/28/masih-merasa-sedih-setelah-ditinggal-bertahun-bartahun-wajarkah/
Rasa dukacita adalah kejadian yang unik, rasa dukacita dapat dialami oleh individu dalam waktu yang berbeda-beda, dalam jangka waktu bulanan maupun tahunan. Meskipun jangka waktu dukacita lama, lantas bukan menjadi alasan untuk larut dalam kesedihan, sudah saatnya kamu bangun, hal ini memang tidak mudah karena ketika berduka memang diri kita akan diliputi rasa sedih, kecewa dan marah emosi negatif tersebut membuat diri kita merasa tidak berharga, tidak berdaya dan lemas sehingga kita enggan untuk melakukan berbagai aktifitas sehari-hari. Namun dengan usaha dan niat yang kuat akan membantu mengatasi rasa sedih tersebut, Salah satunya bisa adalah mencari dukungan sosial dan mendekatkan diri pada Tuhan, dengan mendekatkan diri perlahan kita akan paham bahawa kematian adalah fitrah setiap manusia dan tidak ada yang bisa menyebabkan kematian kecuali atas kehendak Allah, begitupula kondisi pernikahan K yang mengalami perceraian karena jodoh dan maut adalah kuasa Allah. Lalu mencari dukungan sosial bisa dengan menjalin kembali relasi sosial dengan teman-teman atau melakukan berbagai aktifitas yang menarik bagi kamu. Coba kamu evaluasi aktifitas apa saja yang sudah kamu tingggalkan selama ini? sudah saatnya kamu berlahan mencoba kembali melakukan berbagai aktifitas tersebut.
Jika K ingin pergi ke pesantren ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan, pertama apakah menurut K hal ini akan mengatasi masalah kamu? lalu bagaimana dengan putra kamu jika K memilih untuk pergi ke pesantren? Jika ia dititipkan dengan ibu di rumah, apakah tidak akan menimbulkan masalah yang baru lagi? Sebaiknya K membuat keputusan dengan bijak dengan melibatkan atau berdiskusi dengan keluarga terutama yang berhubungan dengan anak anda.
Hal mungkin yang bisa K lakukan adalah mencari pekerjaan, dengan bekerja K akan memiliki keuangan yang mandiri sehingga K bisa merencanakan kehidupan ke depan akan seperti apa, misalnya menyewa rumah, membuka tabungan, dll. Berhubungan dengan pendapat K mengenai tetangga yang tidak suka dan sering menyakiti hati kamu, ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan terkait hal tersebut. Pertama,apakah itu dilakukan oleh semua orang dilingkungan kamu? Kedua, apakah semua orang tidak ada yang menyukai kamu? Ketiga, apakah kamu benar-benar mendengar dan melihat mereka tidak suka dengan kamu? Silahkan K bisa menjawab dan melakukan refleksi dari pertanyaan saya tadi. Perlu K ketahui bahwa ketika sedang sedih otomatis pikiran dan persepsi kita mengenai lingkungan akan menjadi negatif, hal ini lah yang kadang membuat seseorang mengambil kesimpulan yang keliru karena memiliki persepsi yang buruk terhadap orang lain atau lingkungan. Semakin kamu khawatir dan memikirkan hal tersebut maka akan semakin besar pula pikiran negatif kamu terhadap lingkungan.

Mungkin beberap tips ini bisa membantu kamu untuk menghadapi kesedihanmu:
1. Mulai melakukan aktifitas. Mulailah melakukan berbagai aktifitas maupun olahraga, seperti melakukan kegiatan fisik yang ringan, contohnya menyapu, memasak dan mebereskan rumah lakukan secara konsisten setiap hari dan bila ada waktu senggangng bisa mencoba olahraga dengan berjalan santai di luar rumah, tidak perlu terlalu lama cukup 10-15 menit per hari.
2. Jalin relasi sosial. Bangun kembali relasi sosial dengan teman-teman kamu dahulu, bisa dengan sms, menelpon dan bertemu dengan mereka. Intinya jalin kembali persahabatan kamu dengan temann-teman
3. Menulis. Nah, K bisa mencoba menuliskan semua pikiran dan perasaan kamu selama ini, dibandingkan dengan hanya memikirkannya saja atau berbicara sendiri akan jauh lebih baik bila dituliskan karena dengan menulis akan membantu melihat permasalahan dari sisi yang berbeda. Lakukan aktifitas menulis setidaknya 5 menit untuk meluapkan emosimu dan usahakan keesoknya baca kembali apa yang telah kamu tulis tersebut. Menulis bisa dilakukan setiap kali kamu merasa sedih  atau saat tidak nyaman.
4. Rekreasi. Kamu bisa melakukan aktifitas menyenangkan yang disukai, bisa dengan mengajak anak maupun keluargamu yang lain. Kegiatan rekreasi ini juga dapat mendepatkan kembali hubungan kekeluargaan kalian

SIlahkan K coba beberapa tips di atas, namun bila K merasa semakin buruk jangan ragu untuk mendatangi layanan profesional di wilayah kamu. Semoga jawaban saya bisa membantu meringankan masalah kamu ya.

Salam hangat

Psikologi Online