Masih Merasa Sedih Setelah Ditinggal Bertahun-Bertahun, Wajarkah?

Artikel
Another Blank Sign – this time a final one… a gravestone

Merasa sedih setelah mengalami kehilangan atau ditinggalkan oleh orang terdekat untuk selama-lamanya adalah hal yang wajar, dukacita merupakan respon alami yang diberikan setelah seseorang mengalami kehilangan. Namun setelah sekian lama ternyata dukacita tak kunjung reda juga, sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya apakah hal ini wajar atau jangan-jangan mengalami stress pasca kehilangan ? untuk dapat menjawabnya kita perlu memahami proses dukacita. Dukacita adalah pengalaman yang dialami oleh seseorang yang kehilangan orang yang dikasihi karena meninggal dunia. Pengalaman ini akan dialami dalam bentuk reaksi emosi, fisik dan kognitif. Reaksi emosi seperti sedih, marah, kecewa, lelah, sepi dan shock. Reaksi fisik antara lain, mulut menjadi kering, otot-otot menjadi lemas, sesak di dada dan kerongkongan terasa tercekat. Sedangkan reaksi kognitif antara lain, bingung, mengalami halusinasi, dan tidak bisa fokus.  Menurut Kubler Ross individu yang mengalami dukacita akan melewati tahap berikut:

1. Denial atau penyangkalan, tahap ini biasanya merupakan reaksi pertama kali ketika mengalami kehilangan orang yang dicintai. Denial muncul dalam bentuk tidak percaya atau mengingkari bahwa kehilangan atau kematian telah terjadi.
2. Anger atau kemarahan, individu menolak dan merasa marah atas kehilangan yang terjadi, tidak jarang sebagian menyalahkan lingkungan eksternal yang berpeluang untuk disalahkan seperti staff medis maupun orang lain dan ada juga yang justru menyalahkan diri sendiri atas kematian yang terjadi.
3. Bargaining atau tawar menawar, di tahap ini individu melakukan tawar menawar dengan Tuhan melalui doa-doa atau harapan orang yang meninggal dunia tersebut dapat diberikan kesempatan untuk hidup kembali.
4. Depression, pada tahap keempat individu akan merasa sedih yang mendalam, terus menangis, dan menarik diri dari lingkungan. Sebagian individu pada fase ini mungkin bisa melakukan intropeksi atau refleksi diri atas kejadian yang menimpanya namun bila tidak mampu melewati fase ini maka berpeluang untuk mengalami depresi yang lebih serius dikemudian hari.
5. Acceptance atau penerimaan, ditahap ini individu sudah mulai berdamai dan
menerima kenyataan-kenyataan yang terjadi, individu mulai memahami dan menerima peristiwa yang ia alami.

Kelima tahapan berduka yang dikemukan di atas tidak harus berurutan dan tidak harus semuanya dialami oleh orang yang sedang berduka, bisa saja seseorang hanya mengalami satu tahapan atau dua tahap. Durasi yang dibutuhkan seseorang untuk melawati tahap dukacita pun berbeda-beda, proses dukacita sesuatu yang unik karena tidak memiliki rentang waktu yang pasti kapan seseorang selesai melewatinya. Sehingga kita tidak bisa menghakimi seseorang mengalami stress pasca kematian karena ia masih terlihat sedih walaupun telah ditinggal oleh orang yang ia cintai bertahun-tahun lamanya apalagi jika semakin dekat hubungan dengan orang yang telah meninggalkankannya maka akan semakin lama proses untuk melewati masa dukacita, selain itu durasi dukacita pun dipengaruhi oleh proses kematian dan usia, apabila kematian terjadi secara mendadak atau bahkan terlibatnya individu lain dalam kematian (seperti bunuh diri atau korban kejahatan, kecelakaan, dll) serta usia yang ditinggalkan relatif muda maka berpeluang untuk mengalami dukacita yang semakin lama. Yang perlu diwaspadai adalah gangguan atau efek dari dukacita tersebut, jika dukacita malah memberikan pengaruh negatif seperti menjadi sakit secara fisik, kondisi tubuh menurun dan kehilangan minat terhadap lingkungan luar maka kondisi ini bisa menjadi indikasi adanya masalah patologis dan perlu ditangani.

Lalu bagaimana agar individu tidak berlarut-larut dalam dukacita ? proses dukacita adalah proses yang tidak bisa dipaksakan artinya kita tidak bisa memaksa seseorang untuk dengan cepat melewati dukacita, setiap individu membutuhkan waktu berbeda-beda untuk melewatinya. Salah satu yang bisa membantu seseorang melewati dukacita dengan baik adalah tersedianya dukungan sosial, dukungan sosial yang ada dapat memberikan rasa diterima, diperhatikan, dan dicintai oleh orang lain. Dukungan sosial bisa dalam bentuk mengucapkan belasungkawa, datang ke acara pemakaman, membantu proses pemakaman dan berkunjung kerumah yang sedang berduka setelah beberapa hari kematian. Umumnya individu hanya hadir saat proses pemakaman atau ketika acara kematian namun sebenarnya yang juga sangat dibutuhkan adalah kepedulian mereka setelah beberapa hari proses pemakaman karena pada saat itu orang yang ditinggalkan akan merasakan kesepian dan sedang berusaha menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupannya sehingga kehadiran dukungan sosial akan membantu mereka untuk mengatasi rasa sepi dan menguatkan mereka untuk beradaptasi terhadap perubahan. Selain dukungan sosial tentu faktor dalam diri individu juga perlu dilakukan, berikut hal yang dapat dilakukan untuk memberikan semangat baru pasca kematian:

  1.  Berikan waktu untuk bersedih, berikan waktu pada diri sendiri untuk bersedih dan meluapkan emosi yang dialami. Namun jangan lupa untuk memberikan batasan waktu pada diri sendiri kapan saatnya untuk bangkit kembali, setelah rasa sedih “puas” diungkapkan langkah berikutnya adalah membuka diri terhadap lingkungan.
  2. Bangun relasi sosial, mulailah untuk membangun kembali relasi sosial dengan lingkungan, jalin kembali relasi dengan mulai untuk berkumpul dengan teman-teman, melakukan berbagai aktifitas sehari-hari dan ngobrol dengan orang lain baik mengenai perasaan kamu maupun mengenai hal-hal yang ringan.
  3. Manjakan diri, kamu pun bisa memanjakan diri dengan melakukan berbagai aktifitas yang menyenangkan. Dengan melakukan berbagai aktifitas yang menyenangkan dapat membangkitkan kembali semangat dan rasa senang dalam diri.
  4. Dekatkan diri pada tuhan, ini hal yang cukup penting karena dengan mendekatkan diri pada Tuhan akan membantu kita melihat peristiwa dengan lebih bijak dan dari perspektif berbeda.