Kategori: Tanya Jawab

Tanya Jawab

Menjalin Hubungan Tanpa Status

Tanya Jawab

Nama : Diana

Pertanyaan:

Saat ini saya sedang memiliki hubungan tanpa status dengan seorang pria selama setahun. Selama setahun ini saya pernah melakukan petting, fingering, dan kissing dengannya. Kami mengakui bahwa hasrat seksual kami besar dan kami tidak dapat menahannya. Pria ini adalah pria pertama yang membuat saya nyaman, sedangkan dia telah melakukan hubungan seksual secara intim pada beberapa wanita sebelum bertemu dengan saya. Saya memiliki ketakutan apakah saya beresiko terkena IMS, apakah saya baik untuk melanjutkan hubungan dengannya, apakah saya akan menikah dengannya, dan apakah saya harus membuka aib pada masing-masing orang tua kami? Pemikiran pemikiran negative kerap muncul pada diri saya selama setahun ini. Tidak pernah menjalani hubungan seperti ini sebelumnya membuat saya pernah menarik diri dari pergaulan sosial. Saat ini saya masih berhubungan baik dengannya, masih saling mensupport, tidak mencari pasangan lain, dan membayang kan masa depan bersama. Sejujurnya saya ingin melanjutkan hubungan serius dengannya sebab saya melihat ada perubahan yang lebih baik dengannya selama menjalani hubungan dengan saya. Namun, saya berasal dari latar belakang keluarga jawa dan islam, sehingga saya memikirkan akan dosa dan bibit bebet bobot nya kelak. Sudah setahun ini saya memikirkan hal ini terus menerus hingga saya menjadi overthinking, pemarah, dan kurang fokus dalam beraktivitas. saya mohon bantuannya untuk menemukan solusi atas permasalahan saya ini, trimakasih banyak.

 

Jawaban:

Selamat siang Diana,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah mempercayakan permasalahan anda dan menghubungi Psikologi Online.

Menjalin hubungan tanpa status sebenarnya adalah hal yang beresiko karena tidak ada komitmen dalam hubungan tersebut, salah satu pihak bisa saja meninggalkan pihak yang lainnya atau dengan mudah berpaling ke yang lain karena tidak adanya komitmen yang mengikat, tentu hal ini akan memberikan kerugian terutama bila gaya pacaran atau kedekatan sudah tidak sehat atau mengarah pada perilaku seksual. Gaya pacaran yang tidak sehat akan memberikan beban psikis, Pertama, sebagai orang yang beriman kita paham bahwa pacaran adalah perbuatan yang dilarang agama apalagi perilaku seksual sebelum menikah, biasanya pelaku akan mengalami kecemasan moralitas, dimana terjadi rasa khawatir atau cemas karena telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan kata hatinya atau nilai-nilai moral. Kecemasan ini bisa muncul secara tiba-tiba dan membuat yang bersangkutan merasa bersalah. Umumnya ketika cemas, individu menjadi tidak fokus, bingung, marah, kesal, dan tidak nyaman.  Nah bila kita lihat lagi, sepertinya dari cerita Diana, kamu mulai mengalami kecemasan moralitas karena melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hati nurani kamu.
Kedua, bertentangan dengan budaya. Kita hidup dalam budaya timur, dimana perempuan dituntut untuk bersikap sopan, santut baik tutur kata maupun tindak tanduknya, sehingga gaya pacaran atau kedekatan yang tidak sehat biasanya dianggap sebagai perilaku yang tidak sesuai budaya hal ini tentu akan memberikan pengaruh pada cara pandang masyarakat terhadap nilai diri kita, masyarakat akan menganggap diri kita rendah dan pelaku pun akan merasa berjarak dari lingkungan karena melakukan hal yang tidak sesuai norma perilaku normal di masyarakat sehingga muncul perasaan kesenjangan diri dengan lingkungan sosial. Kondisi ini bisa mempengaruhi rasa percaya diri dan penarikan diri pelaku untuk bersosialisasi di lingkungan.
Ketiga, perilaku seksual yang tidak tepat tentu dapat memberikan peluang tertularnya penyakit seksual atau infeksi menular seksual(IMS) selain HIV karena HIV hanya akan tertular jika terjadi pertukaran cairan atau darah dengan penderita. Ketika melakukan petting, kissing, dan fingering terjadi sentuhan kulit sehingga berbagai bakteri dapat berpindah ke tubuh anda, apalagi teman dekat kamu sering berganti-ganti pasangan maka semakin besar resiko untuk tertular IMS karena kondisi kesehatan dan kebersihan pasangan tidak diketahui apakah ia bebas dari penyakit tertentu.
Diana yang baik, jika kita telaah lagi berbagai resiko yang muncul baik karena gaya pacaran yang tidak sehat maupun menjalin hubungan tanpa status sepertinya banyak dampak negatifnya, iya kan? oleh sebab itu akan lebih baik bila Diana mulai menjalin hubungan yang sehat.

Sebenarnya perilaku kissing, peeting dan fingering adalah awal dari aktifitas seksual, biasanya individu yang memiliki kebutuhan seksual tinggi akan merasa frustasi ketika kebutuhannya tersebut tidak terpenuhi, sehingga mereka akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, oleh sebab itu perlu usaha ekstra apabila Diana ingin mengubah perilaku teman kamu tersebut, dan yang penting ia pun memiliki niat untuk menekan kebutuhan seksualnya, karena apabila hanya Diana yang memiliki tekad tentu ia akan sulit untuk berubah. Jika ingin tetap melanjutkan hubungan dengan dia, Diana perlu menimbang faktor kemungkinan terburuk yang akan terjadi keesokan hari dari perilakunya saat ini karena perilaku sekarang bisa menjadi indikator perilaku seseorang dikemudian hari, walaupun tidak menutup kemungkinan ia bisa berubah menjadi lebih baik asalkan ada tekat dan usaha yang kuat.

Semoga jawaban saya dapat membantu

Salam Hangat,

Hidup Berubah Setelah Ditinggal Ayah dan Suami

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Nama/Inisial: K

Usia: 27 Tahun

Domisili: Surabaya

Assalamu’alaikum
Saya seorang wanita single parent dan punya satu anak laki2 masih balita.Saya mengalami banyak perubahan dalam hidup saya terutama setelah banyak kejadian/peristiwa yang membuat saya trauma di masa lalu.Saya sekarang merasa sering berubah keinginan, terus saya sering bicara sendiri kadang didalam hati atau bicara ketika beraktivitas.Saya gampang menangis karena sensitif ketika orang menyindir atau menyinggung saya, saya tidak bisa sabar jadi saya langsung balas omongan orang yang menyakiti hati saya sebagai pembelaan.Saya juga suka sekali dengan tidur sampai tetangga bully saya dan tidak suka dengan saya yang banyak tidurnya.Saya suka menunda waktu dan malas mandi.Entah kadang saya tidak bisa mengendalikan diri saya ketika marah dan emosi juga kadang aktivitas saya sehari hari terganggu dengan kemalasan saya dan ketidakmampuan saya untuk “bangkit” menjalankan kewajiban seperti sholat atau aktivitas lainnya seperti mandi nyuci dll.Saya sering sedih sendiri ketika saya teringat kejadian yang buruk dan merasa kasihan pada diri saya sendiri.Saya sering marah dan membantah orang tua setelah perceraian karena saya menikah karena paksaan dari ibu saya juga dengan kondisi kesehatan yang buruk serta belum siap fisik dan mental.Ketika masa perceraian saya mendapat banyak bullyan dan sikap yang buruk dari keluarga dan lingkungan sekitar.Saya jadi menyalahkan kondisi saya kepada ibu saya.Saat itu saya depresi berat dan tidak keluar rumah lama, cuma 1 bulan 1-3 kali hanya untuk belanja kebutuhan anak di mall.Sampai sekarang saya jadi anti sosial dan tidak mau keluar rumah walaupun dalam hati ingin terkena sinar matahari pagi tapi saya takut dengan apa kata orang.Tetangga saya setiap hari selalu buat masalah dengan kata katanya yang mulai menyindir dan menyinggung saya, saya jadi stress dan kadang tidak mau makan malah sering ngomel ngomel dan marah karna tidak terima dengan kata katanya.Saya mengalami kesulitan mengendalikan diri tapi saya masih bisa berfikir logis dan membuat saran terhadap diri sendiri serta mencari jalan keluar dari masalah saya sendiri.Saya merasa harusnya saya dari dulu tidak tinggal di kampung ini, karena selain pengarai orang disini banyak yang kurang baik juga disini banyak kejadian yang membuat saya trauma.Saya berinisiatif untuk ke pondok pesantren juga karena saya ingin bisa sembuh secara mental dan fisik saya.Saya ingin fokus dengan diri saya sendiri, saya rasa menyenangkan kalau saya punya waktu belajar sendiri tapi sayang keluarga saya tidak mengerti dan tidak kasihan dengan saya.Saya pernah merasa seperti orang gila ketika ayah saya meninggal dunia, saya depresi dan benar benar berubah sikap saya 180 derajat, saya sangat pendiam setiap hari diam sedih dan nangis, lalu menyalahkan diri sendiri kalau saya membunuh ayah saya padahal itu semua karena kakak saya yang menyalahkan jadinya saya yang sangat sedih ditinggal ayah tercinta, ketika disalahkan seperti itu ke saya, saya jadi down dan sering menyalahkan dan menyakiti setiap kesalahan sekecil apapun jadi besar sampai saya pernah hampir bunuh diri.Ketika saya depresi saya sering berpikir untuk mati saja, seakan kesalahan saya tidak bisa dimaafkan sekecil apapun itu.Saya sering merasa bersalah sendiri.Maaf kalau curhatannya terlalu panjang.Kira kira saya punya penyakit psikologis apa ya? Lalu bagaimana jalan keluar dari masalah saya dalam hal ini apakah saya butuh perawatan atau butuh obat obatan khusus atau pindah tempat tinggal ? Mohon bantuan saran.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

Jawaban:

Walaikumsalam, WrWb

Selamat malam Mbak K yang selalu berbahagia dimana pun berada

Terima kasih banyak sudah mempercayakan permasalahan Mbak K ke Psikologi Online. Saya turut simpati dengan peristiwa yang dialami oleh anda pertama peristiwa meninggalnya ayahanda dan kedua perceraian dengan suami, saya paham tidak mudah untuk menerima kehilangan orang yang dicintai apalagi orang tua sendiri. Jika K masih merasa sedih dan menyalahkan diri sendiri atas meninggalnya ayahanda, ini menunjukan K masih dalam tahap anger atau kemarahan, ditahap ini seseorang akan menyalahkan dirinya sendiri maupun orang lain atas meninggalnya seseorang. Untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel mengenai dukacita di https://psikologionline.com/2018/02/28/masih-merasa-sedih-setelah-ditinggal-bertahun-bartahun-wajarkah/
Rasa dukacita adalah kejadian yang unik, rasa dukacita dapat dialami oleh individu dalam waktu yang berbeda-beda, dalam jangka waktu bulanan maupun tahunan. Meskipun jangka waktu dukacita lama, lantas bukan menjadi alasan untuk larut dalam kesedihan, sudah saatnya kamu bangun, hal ini memang tidak mudah karena ketika berduka memang diri kita akan diliputi rasa sedih, kecewa dan marah emosi negatif tersebut membuat diri kita merasa tidak berharga, tidak berdaya dan lemas sehingga kita enggan untuk melakukan berbagai aktifitas sehari-hari. Namun dengan usaha dan niat yang kuat akan membantu mengatasi rasa sedih tersebut, Salah satunya bisa adalah mencari dukungan sosial dan mendekatkan diri pada Tuhan, dengan mendekatkan diri perlahan kita akan paham bahawa kematian adalah fitrah setiap manusia dan tidak ada yang bisa menyebabkan kematian kecuali atas kehendak Allah, begitupula kondisi pernikahan K yang mengalami perceraian karena jodoh dan maut adalah kuasa Allah. Lalu mencari dukungan sosial bisa dengan menjalin kembali relasi sosial dengan teman-teman atau melakukan berbagai aktifitas yang menarik bagi kamu. Coba kamu evaluasi aktifitas apa saja yang sudah kamu tingggalkan selama ini? sudah saatnya kamu berlahan mencoba kembali melakukan berbagai aktifitas tersebut.
Jika K ingin pergi ke pesantren ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan, pertama apakah menurut K hal ini akan mengatasi masalah kamu? lalu bagaimana dengan putra kamu jika K memilih untuk pergi ke pesantren? Jika ia dititipkan dengan ibu di rumah, apakah tidak akan menimbulkan masalah yang baru lagi? Sebaiknya K membuat keputusan dengan bijak dengan melibatkan atau berdiskusi dengan keluarga terutama yang berhubungan dengan anak anda.
Hal mungkin yang bisa K lakukan adalah mencari pekerjaan, dengan bekerja K akan memiliki keuangan yang mandiri sehingga K bisa merencanakan kehidupan ke depan akan seperti apa, misalnya menyewa rumah, membuka tabungan, dll. Berhubungan dengan pendapat K mengenai tetangga yang tidak suka dan sering menyakiti hati kamu, ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan terkait hal tersebut. Pertama,apakah itu dilakukan oleh semua orang dilingkungan kamu? Kedua, apakah semua orang tidak ada yang menyukai kamu? Ketiga, apakah kamu benar-benar mendengar dan melihat mereka tidak suka dengan kamu? Silahkan K bisa menjawab dan melakukan refleksi dari pertanyaan saya tadi. Perlu K ketahui bahwa ketika sedang sedih otomatis pikiran dan persepsi kita mengenai lingkungan akan menjadi negatif, hal ini lah yang kadang membuat seseorang mengambil kesimpulan yang keliru karena memiliki persepsi yang buruk terhadap orang lain atau lingkungan. Semakin kamu khawatir dan memikirkan hal tersebut maka akan semakin besar pula pikiran negatif kamu terhadap lingkungan.

Mungkin beberap tips ini bisa membantu kamu untuk menghadapi kesedihanmu:
1. Mulai melakukan aktifitas. Mulailah melakukan berbagai aktifitas maupun olahraga, seperti melakukan kegiatan fisik yang ringan, contohnya menyapu, memasak dan mebereskan rumah lakukan secara konsisten setiap hari dan bila ada waktu senggangng bisa mencoba olahraga dengan berjalan santai di luar rumah, tidak perlu terlalu lama cukup 10-15 menit per hari.
2. Jalin relasi sosial. Bangun kembali relasi sosial dengan teman-teman kamu dahulu, bisa dengan sms, menelpon dan bertemu dengan mereka. Intinya jalin kembali persahabatan kamu dengan temann-teman
3. Menulis. Nah, K bisa mencoba menuliskan semua pikiran dan perasaan kamu selama ini, dibandingkan dengan hanya memikirkannya saja atau berbicara sendiri akan jauh lebih baik bila dituliskan karena dengan menulis akan membantu melihat permasalahan dari sisi yang berbeda. Lakukan aktifitas menulis setidaknya 5 menit untuk meluapkan emosimu dan usahakan keesoknya baca kembali apa yang telah kamu tulis tersebut. Menulis bisa dilakukan setiap kali kamu merasa sedih  atau saat tidak nyaman.
4. Rekreasi. Kamu bisa melakukan aktifitas menyenangkan yang disukai, bisa dengan mengajak anak maupun keluargamu yang lain. Kegiatan rekreasi ini juga dapat mendepatkan kembali hubungan kekeluargaan kalian

SIlahkan K coba beberapa tips di atas, namun bila K merasa semakin buruk jangan ragu untuk mendatangi layanan profesional di wilayah kamu. Semoga jawaban saya bisa membantu meringankan masalah kamu ya.

Salam hangat

Psikologi Online

Stress Di Lingkungan Kerja Baru

Tanya Jawab
Nama: Meilinda
Pertanyaan:
Saya merupakan lulusan Hub Internasional dari sebuah perguruan tinggi swasta dgn jurusan Hubungan Internasional. Lulus di tahun 2015, dan mulai bekerja di thn 2016 sampai pada saat ini di universitas tempat saya kuliah di bagian Humas dan Pendaftaran Mahasiswa Baru. Awalnya saya pikir ini batu loncatan, namun sampai sekarang saya belum dapat pekerjaan baru. Hal yg membuat saya sangat ingin keluar dari tempat saya kerja sekarang adalah:
1. saya merasa ilmu saya selama kuliah terbuang. Bahkan bahasa asing pun tidak pernah saya gunakan di tempat kerja sekarang.
2. Lingkungan kerja yang tidak bersahabat dimana ada kelompok yang menonjol yakni orang lama yang sangat terlihat menentang pimpinan sekarang misalnya dalam 22 hari kerja, telat kerja sejumlah 19 hari kerja. Namun hanya ditegur saja oleh pimpinan.
3. Terkadang saya menyampaikan keluhan saya ke pimpinan terkait pekerjaan saya karena orang-orang lama sangat jarang membantu sehingga kerjaan mereka diberikan kepada orang baru termasuk saya. Namun pimpinan malah menceritakan betapa stress dirinya dan selalu mengatakan tunggu waktunya. Sehingga saya merasa tidak adil.
4. Tidak terkoordinasinya antara biro 1 dengan biro lainnya sehingga mahasiswa terkadang marah kepada saya. Misalnya pembayaran uang kuliah sebesar 3 juta namun tiba2 menjadi 5 juta. Namun bagian keuangan tidak ada koordinasi ke bagian saya.
5. Saya merasa kehilangan arah dan putus asa, saya hanya ingin resign. Namun saya tidak tega jika harus meminta orangtua menanggung diri saya lagi.
Mohon solusinya,
Terima kasih
Jawaban:
Dear  Meilinda,
Terima kasih sudah mempercayakan permsalahan Meilinda ke Psikologi Online,
Sebelumnya saya minta maaf karena emailnya baru terbalaskan, semoga saja jawaban dari saya masih bisa membantu Meilinda dalam menghadapi permasalahan saat ini.
Perlu Meilinda ketahui, tidak semua perusahaan mempunyai sistem yang baik , kadang sistem yang kurang baik dan tidak koordinasi membuat karyawan mengalami stress kerja, jadi tidak heran jika pimpinan kamu juga mengalami masalah yang mungkin sama dengan yang kamu rasakan. Perusahaan dan leader yang baik memang seharusnya memperhatikan kebutuhan serta kesejahteraan karyawan. Karena keberadaan karyawan ikut membantu efektifitas dan keberhasilan perusahaan. Namun banyak perusahaan yang mengabaikannya bahkan kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan sehingga mempengaruhi kinerja karyawan dan tidak jarang berujung pada berhenti atau resign kerja. Berhenti kerja tentu sah-sah saja dilakukan, namun sebelum resign rencakan  pekerjaan kamu berikutnya yang akan kamu lakukan.
Sebelum resign mungkin Meilinda bisa terlebih dahulu melamar pekerjaan ke tempat lain, setelah mendapatkan peluang untuk bekerja di tempat lain barulah Meilinda mengajukan diri untuk resign. Dan sepertinya pernyataan Meilinda mengenai ilmu yang terbuang selama kuliah, saya rasa tidak ada ilmu yang terbuang asal kita tahu bagaimana memanfaatkan dan menggunakannya. Terkait dengan bidang kuliah Anda, mungkin Meilinda bisa mengambil pekerjaan part time menjadi pengajar bahasa asing atau yang berhubungan dengan bidang kuliah kamu, saat ini pun bekerja part time bisa dilakukan secara online, ada banyak kelas-kelas bahasa asing yang dilakukan secara online, mungkin Meilinda bisa mencobanya.
Semoga penjelasan dari saya bisa meringankan masalah Meilinda ya.
Salam Hangat

Trauma Pelecehan Seksual

Tanya Jawab

Nama : Ny. Fitri
Selamat pagi. Saya pernah mengalami pelecehan seksual yang terjadi selama beberapa tahun. Hal tsb dilakukan oleh keluarga sendiri. Kejadiannya sekitar 25 tahun lalu. Namun hingga saat ini, saya tidak bisa melupakannya sama sekali. Padahal saya kini sudah berkeluarga dengan nyaman dan pelaku telah wafat. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus hipnoterapi? Mohon bantuannya. Terimakasih.
JAWABAN:
Selamat malam Ny Fitri.
Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan anda kepada Psikologi Online.
Saya turut prihatian atas kejadian yang pernah menimpa anda, memang tidak mudah untuk melupakan kejadian yang kurang menyenangkan. Bisa dikatakan anda masih mengalami gejala traumatic, peristiwa traumatic terjadi secara tiba-tiba tidak diharapkan dan mengancam kehidupan seseorang. Individu yang mengalami traumatic akan merasakan beberapa hal berikut:
1. Mengalami kembali kejadian traumatik, baik teringat kembali kejadian tersebut dan mengalami mimpi buruk tentang hal tersebut, kondisi ini dapat menyebabkan penderitaan emosional
2. Penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian terkait atau mati rasa dalam responsivitas, individu cenderung menghindari berbagai kondisi,tempat yang dapat mengingatkan pada kejadian tersebut atau mengalami amnesia terhadap kejadian tersebut
3. Mengalami ketegangan atau cemas, seperti sulit tidur, sulit konsentrasi atau waspada berlebihan, dll
Gejala di atas adalah respon pertahanan diri yang dibentuk oleh tubuh atau diri kita untuk tetap bertahan dari kerusakan atau rasa khawatir. Sebagian orang mungkin akan bisa bangkit dan mengatasinya namun tidak jarang beberapa orang membutuhkan waktu untuk mengatasi pengalaman traumatic. Yang perlu digaris bawahi adalah mengatasi dengan memaafkan atau mengampuni bukan melupakan, mungkin kejadian itu tidak akan pernah terlupakan namun kejadian tersebut sebaiknya termaafkan, karena dengan memaafkan walaupun kita ingat kembali kejadian tersebut kita tidak akan mengalami gejolak emosi lagi. Memang tidak mudah untuk memaafkan, oleh karena itu Fitri bisa mencoba terlebih dahulu menyalurkan emosi yang mungkin belum pernah diungkapkan ke pelaku, Fitri bisa membayangkan sedang berhadap atau berbicara dengan pelaku lalu ungkapkan semua emosi yang Fitri pendam atau rasakan selama ini. Katakan “saya marah dengan sikap kamu”, “saya tidak terima dengan perilaku kamu”, dll. Ungkapkan semua yang menurut Fitri perlu diungkapkan, katakan sampai Fitri merasa lega dan puas. Jangan lupa diakhir, Fitri ungkapakan penerimaan maaf dari kamu, bahwa kamu telah memaafkan dan mengampuni pelaku.  Semoga dengan teknik sederhana ini Fitri bisa merasa jauh lebih baik. Perlu diingat juga, memaafkan membutuhkan proses, mungkin dalam proses memaafkan nanti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, jangan menyerah ya.
Apabila dengan tips ini tidak membuahkan hasil dan Fitri masih merasa terganggu dengan kondisi saat ini, mungkin Fitri bisa mendatangi Psikolog langsung untuk tindakan lebih lanjut.
 Salam Hangat

Tips Bagi Yang Pertama Kali Merantau

Tanya Jawab

Dari : I

Pertanyaan:

saya sekarang duduk di bangku kelas 1 SMA yg baru beradaptasi dengan sekolah baru dan jauh dari rumah dan mengharuskan untuk ngekost. Dan jujur saya ga bisa jauh dari orang tua dan rumah jadi berat banget. Apakah itu bisa berpengaruh dengan belajar saya di sekolah dan bagaimana solusinya? Terimakasih sebelumnya🙏🏻

 

Jawaban:

Dear I

Terima kasih sudah menghubungi dan mempercayakan permasalahan icha ke kami.
Saya bisa memahami bagaimana kekhawatiran icha yang tinggal jauh dari keluarga, apalagi ini adalah hal yang baru untuk I. Umumnya seseorang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, mungkin ada kekhawatiran, takut atau sedih karena jauh dari keluarga dan dituntut untuk mandiri, tentu ini adalah hal yang normal sekali. Waktu yang dibutuhkan individu untuk beradaptasi biasanya berlangsung dalam waktu tiga bulan, apabila dalam waktu tiga bulan tersebut dirasa tidak ada perubahan atau malah muncul kekhawatiran yang lebih besar lagi maka sebaiknya icha mendatangi tenaga kesehatan seperti psikolog untuk penanganan lebih lanjut.
I yang baik, mungkin icha belum siap untuk berpisah dengan orang tua, sehingga banyak pikiran negatif yang membayangi I. Namun icha perlu meyakinkan diri bahwa apa yang icha lakukan saat ini adalah untuk masa depan kamu kelak. Untuk mengusir rasa rindu kamu dengan keluarga mu, kamu bisa menggunakan teknologi untuk menghubungi mereka, bukankah sekarang banyak teknologi yang bisa digunakan seperti video call dll. Belajar untuk mengembangkan relasi sosial dan bangun relasi sosial yang luas dengan teman teman agar kamu memiliki banyak teman dan usahakan isi waktu luang dengan melakukan berbagai kegiatan positif, bisa dengan mengikuti ekstrakulikuler atau ikut kursus.
Semoga jawabannya bisa membantu kamu ya.

Salam hangat.

Psikologi online

Dikucilkan Dalam Perkuliahan

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Nama : Dyan

Saya adl mahasiswa magister, kuliah saya sudah berjalan skitar 1 tahun. Ketika saya masih semester 1 saya pernah mengalami kejadian tdk menyenangkan di kelas. Saat itu saya sedang presentasi, dan tanggapan dosen saya membuat saya cukup malu di hadapan teman-teman sekelas saya. Selanjutnya pada presentasi ke dua kali, saya di beri tanggapan bahkan lebih parah. Kata-kata yg dosen saya gunakan memang halus, namun saya merasa kepribadian saya dijatuhkan di depan kelas dan di lihat oleh semua yg hadir saat itu. Awalnya saya hanya merasa tindakan yg dilakukan dosen saya itu menyakitkan, namun seiring berjalan waktu saya merasa kehilangan percaya diri dan semangat saya dalam mengerjakan tugas kuliah. Ditambah lagi dengan lingkungan pertemanan saya setelah itu membuat saya merasa dikucilkan. Saya merasa sering diabaikan ketika berbicara, tidak dianggap sebagai masukkan atau dipertimbangkan dalam diskusi. Saya sempat curhat dengan teman sebaya saya, mungkin perbedaan kultur yg membuat saya susah begini. Saya anggap pernyataan teman sebaya saya itu sebagai masukkan untuk lebih baik dalam beradaptasi, ya karena memang saya kuliah di luar pulau asal saya. Hal itu cukup menenangkan saya selama beberapa waktu. Kejadian berikutnya membuat saya smakin yakin bahwa saya di tolak di lingkungan kelas saya, saya pernah mengajukan diri untuk ikut dalam sebuah diskusi kelompok dan ditolak dengan alasan yg masih masuk akal yaitu beda “pokok bahasan”. Saya terima alasan itu. Namun pada hari H diskusi saya malah menemukan dalam diskusi itu ada anggota yg tidak termasuk dalam kelompok “pokok bahasan” yg sama. Saya masih diam dengan hal itu. Saya mencoba berfikir positif. Saya meredam kesal saya yg seolah merasa diabaikan dan dikucilkan. Selanjutnya hal yg sama, ketika ada tugas yg susah dan saya baru tahu bahwa 50% anggota kelas belajar bersama sementara saya bahkan tidak tau. Kalau memang alasan mereka tidak mengajak saya karena saya tidak menanyakan atau mengajukan diri untuk ikut belajar bersama, bagaimana saya tau jika bahkan tidak ada yg memberitahu. Jika memang berniat baik pasti sekedar mengabari akan belajar bersama terlepas saya mau ataupun tidak. Saya sungguh kesal pada saat ini. Mereka bahkan tidak peduli sama sekali pada saya meskipun sudah tahu bahwa saya bukan anak yg pintar dan memerlukan teman diskusi untuk belajar. Jujur saya lelah menghadapi lingkungan seperti ini ketika saya merasa paling bodoh dan dikucilkan. Mohon tanggapannya terimakasih

Jawaban:

Dear Diyan,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena sudah mempercayakan permasalahan anda ke Psikologi Online. Saya paham bagaimana perasaan anda merasa diabaikan oleh lingkungan, pasti sedih dan jengkel sekali rasanya apalagi jika usaha dalam membuat tugas dan pendapat kita kurang dihargai oleh dosen maupun teman yang lain.
Perlakuan-perlakuan negatif dari lingkungan memang akhirnya dapat memberikan dampak negatif terhadap bagaimana kita menilai diri sendiri, semakin kita menilai diri kita negatif atau buruk maka perilaku kita pun akan ikut menunjukan bahwa kita memang tidak mampu untuk berperilaku positif. Oleh karena itu jangan biarkan hal itu terjadi, jadikan pendapat atau penilain orang lain terhadap kamu sebagai kritikan yang membangun. Artinya kamu bisa belajar untuk lebih baik dari keritikan mereka, contohnya dosen yang mengkritik presentasi, coba kamu cari tahu apa yang membuat ia mengeluarkan kritikan tersebut.  Dalam presentasi ada dua hal yang menjadi dasar utamanya, pertama isi materi dan kedua cara penyampaian materi. Mungkin saja presentasi kamu yang kurang lengkap atau kamu kurang menguasai materi dan masih banyak kemungkinan yang lain, dengan kamu mengetahui sumbernya, coba kamu perbaiki kekurangan tersebut. Selain isi materi mungkin yang harus juga diperhatikan dalam presentasi adalah kemampuan micro skill, seperti cara berbicara lantang atau terbata-bata, ekspresi wajah menampilkan percaya diri atau takut, menjalin kontak mata dengan pendengar atau tidak. Micro skill bisa Diyan latih dengan belajar presentasi di cermin, amati apa yang kurang dan perlu ditingkatkan. Serta hal yang perlu diperhatikan terkait diskusi, mungkin Diyan sebelum menyampaikan pendapat bisa terlebih dahulu memperbanyak bahan diskusi dengan membaca buku maupun artikel yang berkaitan dengan topik pembahasan.
Dalam perkuliahan memang cukup penting untuk membangun relasi sosial, tidak ada salahnya kan bila Diyan yang terlebih dahulu menanyakan pada teman-teman mengenai belajar kelompok? Jika Diyan merasa tidak dekat dengan teman-teman satu kelas, mungkin Diyan bisa belajar untuk menjalin relasi yang lebih dekat dan terbuka dengan mereka, bisa dicoba dengan ikut gabung dengan mereka ketika sedang mengobrol atau setelah jam perkuliahan. Ketika teman-teman sudah merasa dekat dengan kamu, biasanya mereka akan lebih terbuka dalam menyampaikan informasi.
Diyan yang baik, memang tidak semua individu terlahir dengan intelektual yang superior namun bukan berarti individu yang memiliki intelektual standar tidak bisa sukses. Terlalu dini bila kita mengatakan kita tidak pandai, karena intelektual tidak melulu pandai dalam bidang akademis karena ada banyak jenis intelektual. Dan yang perlu Dyan ketahui bahwa kesuksesan maupun berhasilan datang dari kerja keras, kemampuan yang terus menerus diasah akan menghasilkan individu yang unggul. Seperti otak manusia yang terus menerus diisi dengan berbagai informasi, pengetahuan, dan keterampilan tentu akan menghasilkan individu yang pandai. usahakan untuk mengisi waktu luang dengan sesekali belajar atau membaca buku. Semoga Diyan tidak patah semangat ya dalam kuliah dan mengejar cita-citanya, tunjukan pada lingkungan bahwa kamu bisa dan berikan penghargaan yang positif pada diri kamu, yakinkan dan katakan pada dirimu bahwa “saya mampu untuk belajar dan memahami berbagai informasi” atau “saya bisa presentasi dengan baik” dll.
Semoga jawaban saya dapat membantu Diyan dalam menghadapi permasalahan saat ini, dan jangan lupa untuk selalu berdoa dan minta bantuan pada Tuhan.
Salam Hangat,

Apa Saya Mengalami Daydreaming ?

Tanya Jawab
Nama / Inisial : T
Usia : 23 Tahun
Pertanyaan:
Selamat malam,
Sebelumnya saya juga pernah konsultasi dengan ibu.
Hampir sama seperti kasus sebelumnya, sejak SD kelas 5 setelah ibu saya meninggal (peristiwa tsunami 26 desember) sampai dengan sekarang. Saya benar-benar kehilangan sosok ibu dalam hidup saya. saya anak pertama dan anak perempuan pertama dari 3 bersaudara. Saya mempunyai 2 orang adik laki-laki (kembar). Saat ibu saya meninggal adik saya yg kembar berumur 5 tahun dan saya 10 tahun. Saya tidak terlalu dekat dengan sosok ayah. Jadi setelah tsunami saya sempat tinggal bersama saudara,(saya tidak tinggal bersama ayah, karena ayah saat itu tugas diluar). adik saya lumayan bandel. Ibu meninggalkan kepada saya 2 org adik disaat usia saya 10 tahun, mungkin sepertinya saya belum cukup matang menghadapi mereka. Alhasil saya sering merasa sedih dan mengingat ngingat ibu saya. Saya merasa saya tidak bisa jadi kakak sekaligus ibu yang baik untuk adik2 saya. Belum lagi ditambah masalah berantem tinggal sama saudara. Karena saya tidak dekat dengan ayah, jadi saya tidak pernah menceritakan apapun yang terjadi kepada ayah. Saya lebih memilih diam dan nangis sendiri. Sampai sekarang saya tidak pernah menceritakan apapun kepada ayah saya apapun yang saya alami, baik sering diperlakukan kasar sama saudara, dimarah dan sering berantem. Ayah saya tidak pernah megetahui hal itu. Lagi lagi saya diam dan menangis saja. Setelah 2 tahun berlalu peristiwa tsunami, ayah saya menikah lagi, alhamdulillah saya dekat dengan ibu sambung saya. Tidak ada masalah.
Tetapi Dampak dari peristiwa kejadian setelah ibu saya meninggal berdampak sampai sekarang, saya sering sekali melamun dalam keadaan apapun, baik itu dirumah, kantor, dijalan, mau tidur, lg nonkrong atau lg makan. Bahkan sedang membacapun saya bisa menghayal atau melamun hal lain, lari dari topik buku yang saya baca. Dan saya juga sering berubah mood tiba-tiba bu, yang tadinya biasa saja di ganggu sedikit langsung bisa marah tiba-tiba (terkadang saya mencoba tahan emosi saya). Terus rasa malas yang berlebihan sering saya rasakan, dalam arti saya benar-benar malas dalam hal apapun, malas keluar rumah, malas ketemu orang, malas mandi, untuk makan saja saya malas bangun. Rasanya lebih nyaman dirumah saja. Terkadang rasa malas saya bisa berdampak takut ketika keluar rumah. Contohnya saya malas ke kantor takut ketemu org kantor, padahal ketika ketemu tidak ada terjadi apa-apa. Baik-baik saja.
Bu, kadang saya suka murung sendiri kalau mengingat sesuatu, dalam keadaan saya seperti itu terkadang saya memilih untuk tidur dan menghayal sesuatu yang bisa buat hati saya senang (paling sering berhayal hidup di eropa, jauh dari orang2 yang saya kenal sekarang). Hampir setiap hari waktu luang saya, saya gunakan untuk menghayal/melamun sesuatu.
Bu, apa yang membuat saya seperti ini? Saya berhayal tentang diri saya yang bisa melakukan hal yang saya inginkan. Ntah itu menjadi orang hebat atau sebaliknya.
Sebelumnya saya pernah membaca artikel ciri-ciri pelamun mengindap Maladaptive daydreaming (MD), apakah benar saya mengidap MD bu?
Kalau dari segi ilmu psikolog, bagaimana cara saya mengatasinya? Apakah ini penyakit? Mohon sarannya bu.
Terima kasih,
Jawaban: 

Dear T,

Terima kasih sudah mempercayakan permasalahan T ke Psikologi Online.com. Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa keluarga T, pasti sedih rasanya kehilangan orang yang terdekat apalagi ibu, yang merupakan significant other bagi anak-anaknya.

Terkait beberapa pertanyaan yang T ajukan, saya akan terlebih dahulu membahas mengenai MD, MD adalah suatu kondisi dimana individu berkhayal atau berfantasi terlalu ekstrem sehingga memberikan dampak negatif. Dalam psikologi daydreaming merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang diciptakan individu sendiri. Individu menciptakan daydreaming untuk melindungi dirinya dari kecemasan atau kekhawatiran. Bisa jadi T melakukan daydreaming karena ada rasa cemas, takut, atau khawatir sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Untuk meminimalisir rasa cemas atau khawatir dan mengembalikan rasa nyaman dibentuklah perilaku daydreaming. Daydreaming berfungsi sebagai pelarian dari realitas dengan menciptakan khayalan sendiri. Lambat laun individu akan menghindari realitas karena ia merasa nyaman hidup dengan khayalan yang ia ciptakan.

Yang perlu T ketahui, Individu yang terlalu banyak menciptakan pertahanan diri adalah individu yang kurang memiliki kemampuan adaptasi yang positif. Saya rasa T bisa mengevaluasi seperti apa kemampuan adaptasi T selama ini terhadap berbagai tekanan dari lingkungan. Untuk adaptasi yang baik dalam berbagai situasi, tentu diperlukan kedewasaan, keberanian dan kepercayaan diri. Tidak mudah untuk belajar beradaptasi, namun dengan proses sepanjang hidup dengan keterbukaan terhadap berbagai pandangan penyelesaian masalah akan membantu individu untuk belajar beradaptasi dengan tekanan-tekanan dari lingkungan.

Pertanyaan saya adalah, sampai kapan T akan seperti ini terus? apakah dengan menarik diri dari lingkungan, terus menerus sedih dan mengakhiri hidup akan menyelesaikan masalah? yang ada bukan menyelesaikan masalah namun menambah beban psikis kamu. Sudah saatnya sekarang Ta belajar membuka diri baik dengan lingkungan maupun dengan keluarga. Jika ada permasalahan dalam keluarga akan lebih baik bila dibicarakan, kemukakan apa yang tidak T sukai dari mereka dan apa yang T harapkan dari mereka. Begitupun dengan lingkungan, coba untuk membangun relasi sosial, tidak ada salahnya mungkin berkumpul dengan teman atau ikut bergabung dalam komunitas tertentu, bergabung dalam lingkungan sosial juga merupakan support group yang bisa memotivasi kita untuk lebih baik. Biasakan untuk membicarakan perasaan kamu bila ada konflik, karena tidak baik bila memendam emosi, emosi yang dipendam akan terakumulasi, seperti bom waktu kita tinggal menunggu saja emosinya meledak yang bisa memberikan dampak pada psikis dan fisik. Saya paham mungkin dalam menjalankannya tidak semudah membalikan telapak tangan, tapi dengan keinginan yang kuat diikuti tindakan nyata saya yakin Tari bisa bangkit kembali. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah dan meminta bantuanNya, karena dengan bantaunNya lah kita bisa menghadapi semua permasalahan yang ada.

Semoga jawaban saya dapat meringankan beban kamu.

 

Salam Hangat,

 

Psikolog Online

Mengenal Faktor Psikosis

Tanya Jawab

Nama : Hamdhani

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya atas kejadian yang teman saya alami, beliau sedang ada masalah, cukup rumit, saat itu kebetulan ada ibu nya teman saya dan tanpa sengaja ibu nya itu mendengar akan masalah tersebut, tak lama sang ibu pulang ke tempat asalnya, namun setelah pulang ke tempat asalnya sang ibu jadi suka ngelantur, berbicara sendiri, dan parahnya lagi sang ibu tidak mengenal anaknya sendiri (teman saya), lalu bagaimana solusinya dok?

mohon pencerahannya.

Thanks and Regars.
Jawaban:
Dear Hamdhani,
Kami turut prihatin dengan kondisi ibu teman anda, tentu sebagai teman kita pasti menginginkan kehidupan teman kita pun bahagia. Terkait pertanyaan Hamdhani di atas, saya perlu menanyakan, sudahkah dilakukan pemeriksaan kejiwaan ibu teman anda?
Pada dasarnya, mengalami halusinasi, kepercayaan yang menyimpang tentang dirinya,  konteks pembicaraan lompat-lompat dan tidak sesuai, adalah salah satu simptom dari indikasi psikosis. Terjadinya psikosis bisa karena faktor internal dan eksternal, faktor internal berupa genetik atau bawaan dan adanya masalah kerusakan otak. Selanjutnya faktor eksternal diakibatkan adanya  kejadian traumatis yang mengguncang individu, individu yang terlalu lama terpapar dalam kondisi stress maupun kejadian traumatis dalam jangka waktu yang lama maka kemungkinan akan memberikan dampak terhadap kondisi psikologis yang berujung pada depresi, kecemasan, dan psikosis. Psikosis juga rentan dialami oleh individu yang memiliki faktor genetik atau keturunan, karena ketika individu tersebut mengalami permasalahan yang berat dan tidak mampu mengatasi permasalahan maka kecenderung untuk mengalami psikosis cukup besar.
Saran saya silahkan datangi petugas kesehatan seperti psikolog atau psikiatri untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Semoga jawabannya membantu
Salam hangat,

Duka Cita Ditinggal Ibu

Tanya Jawab

Nama : Tari

Pertanyaan:

Saya tidak tau permasalahan apa sebenarnya yg terjadi dalam diri saya, tetapi hal yang paling membuat saya nyesek atau menyesal sampai saat ini adalah saya selalu merasa bodoh. Apa yg saya belajar semua tidak terekam di otak saya. Bahkan saya sedang membaca pun kadang menghayal sesuatu yg lain. Saya sekarang terkadang dengan menghayal lebih senang rasanya. Hidup saya sekarang itu seperti dikontrol dengan hayalan-hayalan saya.  saya selalu menyalahkan keadaan, menyalahkan masalalu, dan berandai-andai seandainya itu tidak terjadi. Saya merasa diri saya ini tidak bisa ditempatkan pada posisi berfikir untuk belajar ketika hal lain dalam hidup juga dipaksakan utk difikir dan dijalani,

Mba psikolog, Perlu mba ketahui, saya seperti ini sesudah ibu saya meninggal pada saat umur saya 10 tahun. Rasa trauma hidup pahit dengan orang lain setelah kehilangan ibu membuat saya stres yg berdampak sampai saat ini yg sering berandai-andai seandainya masih punya ibu pasti hidup saya tidak seperti ini. Dada saya sering sakit krn tahan untuk tidak menangis, alhasil saya jadi nyesek sendiri.
semoga ada masukan dari ilmu psikolog apa sebenarnya yang sedang saya hadapi.

Jawaban:
Dear Tari,
Terima kasih telah mempercayakan permasalahan anda kepada Psikologi Online.
Saya turut berduka cita atas meninggalnya ibunda Tari, saya dapat memahami bagaimana rasa sedih ditinggal oleh orang yang kita sayangi.
Berdasarkan pertanyaan Tari, perlu saya garis bawahi dahulu adalah (1)kata-kata tari mengenai “seandainya itu tidak terjadi” yang Tari maksud dengan kalimat “itu” tersebut apa? Apakah kata “itu” merujuk pada peristiwa meninggalnya ibu atau peristiwa lain?, dan (2) apa yang tari khayalkan?
Jika yang dimaksud adalah peristiwa yang menyangkut meninggalnya alhmarhumah ibu saudara, maka ada kemungkinan Tari masih mengalami dukacita. Rasa duka merupakan proses alami yang merupakan respon emosional dari peristiwa kehilangan, seperti kematian. Respon emosional yang diberikan ketika mendapatkan musibah kematian bisa berbagai bentuk seperti, marah, sedih, tidak berdaya bahkan bila terus berlarut-larut bisa berujung pada kondisi depresi. Walaupun telah bertahun-tahun peristiwa kehilangan terjadi namun rasa dukacita bisa terus dialami individu, apalagi jika yang meninggal adalah orang yang memiliki kedekatan emosional. Dalam hal ini, sosok ibu merupakan individu yang sangat berpengaruh sekali dalam hidup Tari sehingga masih menimbulkan rasa duka dalam diri tari.
Pada umumnya Rasa dukacita dibagi menjadi empat fase, antara lain: 1. Mati rasa atau penyangkalan, 2. Kerinduan emosional terhadap orang yang dicintai & penyangkalan sebagai bentuk protes terhadap peristiwa kematian, 3. Disorganisasi kognitif dan despire, pada fase ini individu yang ditinggalkan akan mengalami hambatan dalam aktifitas sehari-hari, 4.Reorganisasi kognitif atau munculnya kesadaran diri, pada tahap ini individu sudah mulai bisa menerima keadaan. Keempat fase tersebut berdiri sendiri dan bisa jadi individu hanya akan mengalami satu fase saja atau mengalami lebih dari satu fase dalam menghadapi dukacita.
Dari empat fase tersebut, ada kemungkinan Tari mengalami fase kerinduan emosional dan fase disorganisasi kognitif & despire, kondisi emosi yang tari alami, seperti rasa marah dan sedih memberikan pengaruh pada kondisi mental maupun fisik, dimana tari menjadi tidak memiliki dorongan maupun kesulitan untuk melakukan aktifitas dengan lebih baik, serta kerinduan yang mendalam membuat tari menciptakan khayalan-khayalan tersendiri menganai almarhumah ibu. Kedua kondisi tersebut bisa mempengaruhi kognitif terutama menghambat proses konsentrasi sehingga menghambat proses belajar yang efektif.
Saya bisa memahami bagaimana perasaan Tari kehilangan sosok seorang ibu, emosi sedih, tidak berdaya dan mungkin marah bergejolak dalam diri Tari. Namun, yang jadi pertanyaan, sampai kapan Tari terus memelihara emosi-emosi tersebut? emosi negatif hanya akan merusak diri Tari, bukankah jauh lebih baik jika Tari mengikhlaskan. Terkait kesering kamu melamun, sebenarnya kamu mengkhayal kearah mana? apakah ke masa lalu atau ke masa depan. Jika ke masa lalu, cobalah ambil hikmah positif dibalik peritiwa yang Tari alami, jadikan itu sebagai proses pendewasaan. Jika ke masa depan, apakah dengan berkhayal bisa membantu memperbaiki kondisi kamu sekarang & membantu kamu menghadapi masa depan?. Bukankah jauh lebih baik bila bertindak secara nyata untuk memperbaiki keadaan/masa depan. Untuk memperbaiki emosi Tari memang perlu beberapa waktu, bisa hanya hitungan minggu, bulan atau bahkan hitungan tahun, semuanya tergantung bagaimana Tari menyikapinya. Ada beberapa hal sederhana yang dapat tari lakukan untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, Pertama tari terlebih dahulu melepaskan emosi terkait peristiwa rasa dukacita, dibandingkan dengan mengkhayal lebih baik tari tuliskan emosi dan pikiran yang memenuhi isi kepala Tari. Buatlah catatan mengenai emosi, kapanpun tari merasakan emosi yang tidak menyenangkan tari dapat menuliskannya, lakukanlah aktifitas menulis ini sehari minimal 15 menit. Dan usahakan baca kembali tulisan tari tersebut, kegiatan membaca ulang ini bisa dilakukan sehari setelah menulis atau beberapa hari setelah menulis. Kedua, cobalah untuk aktif dalam lingkungan sosial, luangkan waktu untuk sekedar “hangout” dengan teman, jalin relasi sosial serta masuk kedalam komunitas dan sibukan diri dengan berbagai aktifitas yang positif. Ketiga, tari bisa membuat rencana/plan untuk masa depan kira-kira apa yang ingin dicapai dan tuliskan juga secara rinci hal-hal apa yang diperlukan agar keinginanya tercapai, dan jangan lupa tuliskan solusi jika tujuan tersebut tidak tercapai. Untuk mendapatkan hasil yang nyata, lakukanlah ini dengan konsisten.
Semoga membantu
Salam Hangat,
Psikologi Online

Memiliki Orang Tua Posesif

Tanya Jawab

Nama : Lina

Pertanyaan:

Selamat pagi ..
Maaf saya ingin sedikit konsultasi dan meminta pendapat anda.
Jadi begini ibu saya amat sangat posesive setiap saya mau maen keluar saya selalu di marahin.
Saya kan juga bosan kalau suruh berdiam diri di rumah.
Apa saya gak boleh maen.
Sampai” saya oulang kerja harus tepat waktu sampai rumah dan padahal saya terkadang pulang kerja mau makan sebentar di luar sekitar 1 jam.  Itu pun saya masih kena marah. Kemudian saya pernah bertanya apa yang di inginkan ibu saya. Dan setelah di jawab ibu saya ingin kalau saya tidak bileh kemana mana di rumah saja. Otomatis saya juga bosan kecuali kalau keluarga sering liburan pasti saya tidak akan bosan. Keluarga saya pun tidak pernah pergi berlibur bersama pernah pun hanya satu kali dua kali. Saya bingung harus bagaimana. Jujur saya amat sangat tertekan. Saya juga sudah besar saya juga punya tanggung jawab.
Saya mohon minta solusi nya

Terima kasih

Jawaban:

Salam Bahagia Lina,
Saya dapat memahami bagaimana perasaan Lina saat ini, merasa bosan dan merasa terikat karena tidak bebas untuk bergerak keluar sesuai keinginan Lina.
Tindakan Lina menanyakan perihal keinginan ibu adalah perilaku yg tepat, akan tetapi akan lebih tepat lagi bila Lina mananyakan alasan dibalik semua perilaku ibu yang melarang untuk keluar. Tentunya ada alasan mendasar yang melatarbelakangi perilaku seseorang, keinginan ibu agar Lina tidak main keluar adalah salah satu bentuk manifestasi dari alasan mendasar yg belum kita ketahui. Apakah karena rasa khawatir terhadap Lina atau karena hal lain?
Yang perlu Lina lakukan selain mencari tahu alasan mendasar tersebut, adalah intropeksi diri. Apakah dulu lina pernah membuat orang tua khawatir atau ada kesalahan-kesalahan yg pernah Lina lakukan hingga membuat orang tua possesive? Ataukah orang tua Lina mengalami trauma yang berhubungan dengan perilaku keluar rumah. Yang perlu digaris bawahi disini adalah apabila penyebab kekhawatiran orang tua karena trauma, artinya trauma tersebut bisa terjadi karena mengalaminya sendiri atau karena mendengarkan atau melihat orang lain yg mengalami kejadian tidak mengenakan, karena sekarang sangat banyak sekali media yang menginformasikan penculikan dan kekerasan terhadap anak. Tentunya apabila terpapar setiap hari tanpa filter mental terhadap berita berita tersebut maka bukan tidak mungkin orang tua akan mengalami kecemasan serta kekhawatiran yg berlebihan terhadap anak apabila berada diluar rumah tanpa pengawasan dari mereka
Tips yang mungkin bisa lina lakukan selain diatas, coba Lina untuk mengkomunikasikan baik baik kepada orang tua, berikan mereka pengertian dan jelaskan akan tugas-tugas dan tanggung jawab Lina di kantor bila mengharuskan untuk lembur atau pulang telat sebaiknya Lina menginformasikan kepada orang tua diawal waktu.   Dan jangan lupa untuk selalu memberikan kabar ke keluarga apabila Lina pulang terlambat.
Selain itu Lina juga mungkin sesekali bisa mengundang teman-teman ke rumah untuk sekedar berkunjung atau kumpul bersama dan jangan lupa kenalkan mereka ke keluarga, hal ini agar keluarga kamu mengenal teman teman kamu selama ini sehingga rasa khawatir mereka berkurang.
Jika Lina merasa quality time dengan keluarga kurang, tidak ada salahnya bila Lina duluan yg membangun quality time, seperti mengajak mereka atau sesekali mentraktir mereka makan diluar. Namun quality time tidak harus didapatkan dengan pergi keluar bersama, quality time dengan keluarga juga bisa didapatkan di rumah, baik ketika sedang makan & menonton tv bersama, ketika melakukan kegiatan tersebut Lina bisa bercanda dengan keluarga atau mengobrol, mulailah dengan hal-hal yang ringan bertahap sampai ke hal-hal yang serius, sehingga lambat laun Lina akan merasa dekat dengan keluarga
Semoga membantu dan bermanfaat.
Salam Hangat,