Penulis: admin

Articles Posted by admin

Kesulitan Menjalani Interview

Tanya Jawab

Nama/inisial : dewi
Usia : 23 tahun
Domisili : jawa timur

Pertanyaan:
Hai Psikologi Online, saya mau curhat sekaligus mencari solusi dari masalah saya. Saya seorang yang pendiam, saat berkumpul dengan sekelompok teman saya sangat jarang membuka omongan. Seperti berbicara itu adalah hal yang
sangat sulit. Akhir2 ini saya banyak panggilan interview untuk mencari
kerja namun karena kendala komunikasi saya yang kurang baik jadi
banyak lamaran saya yang ditolak. Saat saya berbicara dengan orang
lain yang asing atau saat berbicara mengenai perasaan saya selalu
kesulitan untuk menyuarakan pendapat saya. Seperti suara saya tidak
mau keluar dan terhenti ditenggorokan seperti orang mau menangis jadi
saat menjawab pertanyaan hrd terkesan saya bicara sambil menangis dan
suara jadi serak dan kurang jelas. Yang paling mengganggu adalah
tenggorokan dan dada saya yang sakit sekali saat berbicara padahal
hanya untuk menjawab pertanyaan dari hrd saja. Saya ingin tau kenapa
saya bisa seperti itu? Apakah saya perlu membiasakan diri untuk
berbicara lebih aktif? Bagaimana solusi dari masalah saya tersebut.
Terimakasih.

Jawaban:

Hai, selamat siang dewi.
Mohon maaf konsultasinya baru terjawab. Semoga kondisi Dewi saat ini sudah lebih membaik

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena Dewi sudah  mempercayakan dan menceritakan permasalahan Anda kepada Psikologi Online.
Dewi yang baik sebetulnya ada banyak hal yang perlu digali lebih dalam, antara lain, bagaimana pola asuh orang tua dan relasi sosial dewi ? namun dengan keterbatasan informasi yang ada saya akan tetap mencoba menjawab dengan sebaik mungkin. Masalah yang berhubungan dengan kemampuan sosial dan komunikasi dapat disebabkan berbagai hal antara lain, faktor organis atau biologis, kecemasan, pernah mengalami traumatic event, ketidak percayaan diri, dan tidak pernah memiliki kesempatan untuk menyuarakan pendapat atau bersosialisasi sehingga seseorang tidak pernah belajar untuk berkomunikasi dengan tepat. Tips yang sederhana untuk mengatasi masalah komunikasi adalah dengan berlatih berkomunikasi atau membiasakan diri untuk menyuarakan pendapat. Berikut tips-tips yang mungkin bisa Dewi coba:

1. Berlatih. Biasakan diri untuk mengungkapkan pendapat pada orang lain atau lingkungan. Mulailah dengan berlatih berbicara di depan umum, Dewi bisa berdiri di depan kaca dan mulai berlatih berdialog, bayangkan seolah-olah Dewi sedang berhadapan langsung dengan orang lain. Perhatikan setiap intonasi dan nada suara Dewi, serta fokuskan mata  pada kaca (pantulan bayanganmu)
2. Take your time. Tidak perlu terlalu terburu-buru menjawab pertanyaan dari lawan bicara, ambil waktu beberapa detik untuk memahami dan mengolah pembicaraan dari orang lain
3. Santai. Selama pembicaraan buatlah diri anda menjadi santai dan tenang, Dewi bisa menarik napas panjang dan perlahan sambil tetap memeperhatikan isi pembicaraan
4. Kenali diri. Kenali kapan diri Anda mulai merasa tidak nyaman dengan percakapan tersebut, misalnya mulai merasakan jantung berdebar, gugup, atau berkeringant, apabila hal tersebut terjadi Dewi bisa mengatur napas berlahan dan ucapkan kata-kata positif yang dapat membuat Dewi merasa lebih baik.

Silahkan Dewi praktekan tips di atas ya, semoga jawaban saya bisa membantu Dewi.

Salam Hangat,

Psikologi Online

Sulit Mengkontrol Pikiran Negatif

Tanya Jawab

Nama : NM
Usia : 17 tahun

Pertanyaan:

Saya mengalami masalah dalam buang air kecil yang terjadi terus
menerus. Setelah saya cek ke dokter, saya tidak dinyatakan
sakit/infeksi. Lalu dokter bertanya saya ini panikan ya dan saya jawab
ya. Kata dokter kemungkinan ini karena stres. Hal ini terjadi awalnya
karena saya tiba-tiba merasa takut ketika akan sholat, takutnya nanti
saya buang air kecil ketika sholat dan itu terjadi. Jadi ketika sholat
saya selalu merasa buang air kecil terus. Semakin saya memikirkannya
semakin besar kemungkinan itu terjadi. Saya ingin sembuh dan
berpikiran positif tetapi saya masih sulit berpikir positif. Jadi saya
selalu memikirkan nanti pas sholat buang air lagi pasti. Bagaimana ya
cara mengubah pikiran saya agar tidak memikirkannya ketika sholat?

Terima kasih

 

Jawaban:

  1. Selamat Siang Nadya,Terima kasih banyak pada nadya telah mempercayakan permasalahan pada Psikologi Online,Pertama saya turut prihatin dengan kondisi kesehatan Nadya saat ini, saya paham tentu tidak nyaman rasanya bila mengalami masalah buang air kecil apalagi bila hal tersebut sering terjadi ketika akan melaksanakan shalat sehingga membuat Nadya merasa khawatir serta berulang kali melakukan shalat kembali.
    Nadya yang baik, pada dasarnya manusia memiliki Automatic Negative Thoughts (NAT), apa itu NAT?, NAt adalah pikiran-pikiran negatif yang setiap saat dan kapan saja bisa muncul secara spontan. Memang umumnya NAT akan lebih sering muncul ketika kita memiliki memori negatif atau kurang mengenakan terkait peristiwa tertentu. Pada dasarnya pikiran negatif akan memberikan efek negatif pada tubuh, otak akan menafsirkan pikiran negatif dan rasa takut maupun khawatir sebagai bentuk ancaman, sehingga tubuh akan memberikan reaksi tertentu. Dalam kasus Nadya tubuh memberikan reaksi terhadap rasa khawatir dengan kesulitan mengkontrol buang air kecil.

    Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi pikiran negatif tersebut? Cara yang paling memungkinkan adalah membiasakan membantah pikiran negatif tersebut dan menggantinya dengan pikiran positif. Berikut ada beberapa tips lain yang bisa Nadya aplikasikan ketika NAT maupun rasa khawatir tersebut muncul.
    1. Ketika muncul rasa cemas, cobalah untuk bernapas berlahan dan dalam, lakukan selama beberapa            menit dan arahkan fokus anda pada pernapasan
    2. Apabila rasa cemas dan NAT muncul ketika sedang shalat, segeralah Nadya alihkan perhatian ke hal        lain, misalnya fokuskan pikiran NAdya pada ayat-ayat yang dibaca, dan bila perlu Nadya bisa                      menghayati setiap ayat yang dibaca.
    3. Lakukan self talk positif, berikan kata-kata positif pada diri sendiri. MIsalnya “saya mampu                        mengerjakan shalat dengan baik” & “saya individu yang kuat sehingga bisa mengkontrol emosi dan          pikiran”. Self talk ini dapat dilakukan kapan pun
    4. Rutin berolahraga, makan yang bergizi dan istirahat yang cukup. Jaga keseimbangan tubuh sehingga      tubuh tidak mudah dan pikiran tidak mudah stress.

    Semoga jawaban dari saya bisa membantu dan meringankan masalah yang sedang dialami oleh Nadya ya.

    Salam Hangat,

    Psikologi Online

Merasa Sulit Menemukan Passion

Tanya Jawab

Nama : Tami
Usia : 18

Permasalahan :

Halo bapak/ibu, saya akhir-akhir ini merasa sangat kosong, sebenernya sudah dari dulu sih merasa begini.. namun, akhir-akhir ini kekosongannya melebihi hari-hari biasanya, saya sudah mulai gelisah akan masa depan saya. saat ini saya sedang berkuliah semester 2,sampai detik ini saya belum menemukan passion saya yang sebenarnya, saya tidak memiliki hobi khusus, saya tidak memiliki lagu kesukaan saya, saya tidak memiliki minat saya pada sesuatu. saya ingin mencoba mengeksplor sesuatu tapi tidak tahu harus mulai dari mana, dan terkadang saya teralu ragu dan suka negative thinking terlebih dahulu sebelum mencoba. saya sering mengkonsultasikan diri saya dengan teman-teman saya, tapi teman-teman saya juga bingung untuk menjawabnya karena diri saya sendiri tidak tahu akan jawabannya. manusia kan punya warna dalam hidupnya masing-masing, sedangkan saya, saya tidak  memiliki warna tersebut. dan inginnnn sekali mencarinya, namun saya bingung, saya sepertinya butuh psikolog untuk membimbing saya, mohon bantuannya:( 

 

 

 

 

Jawaban:

Dear tami,

terima kasih sudah menghubungi dan mempercayai Psikologi Online akan masalah kamu

Tami yang berbahagai dimanapun berada, tidak memiliki hobi dan lagu yang khusus bukanlah sebagai penentu kamu bisa menemukan Passion dalam diri kamu. Passion tentu tidak datang dengan sendirinya, Passion akan muncul ketika seseorang merasa nyaman, senang, mampu bekerja dengan baik dan merasa telah mengaktualisasikan dirinya ketika bekerja. Oleh sebab itu langkah awal hal yang cukup penting untuk menemukan passion adalah mengenali diri sendiri. Kenali kepribadianmu serta gali dan temukan bakat yang kamu miliki, Passion akan muncul ketika seseorang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat serta kemampuanya. Nah, sekarang bagaimana caranya untuk mengenali bakat kita? salah satu caranya adalah perbanyak eksplorasi berbagai kegiatan yang kamu sukai atau yang ingin kamu lakukan serta bersikap spontan dalam melakukan berbagai kegiatan.
Saya cukup paham, mungkin Tami telah mencoba berusaha melakukan berbagai kegiatan, namun terhalang oleh pikiran-pikiran negatif, sehingga yang pertama kali perlu Tami lakukan adalah mengkontrol pikiran negatif tersebut. Apabila pikiran negatif datang, yang perlu Tami lakukan adalah membantah pikiran tersebut dengan pikiran yang positif, ucapkan berulang kali kalimat positif sambil mengatur napas, fokuskan pikiran Tami pada napas dan kalimat positif. Mengkontrol pikiran negatif memang tidaklah mudah, namun dengan keyakinan dan konsisten melakukannya tentu akan memberikan pengaruh.
Apabila Tami masih merasa sulit untuk menemukan Passionya, Tami juga bisa mengikuti Tes Minat Bakat untuk mengenali bakat serta minat yang Tami miliki. Saat ini di beberapa Biro Psikologi sudah memberikan pelayanan tes minat bakat.

Semoga jawaban yang saya berikan dapat membantu Tami dalam menemukan Passion nya ya.

Salam hangat

Menjalin Hubungan Tanpa Status

Tanya Jawab

Nama : Diana

Pertanyaan:

Saat ini saya sedang memiliki hubungan tanpa status dengan seorang pria selama setahun. Selama setahun ini saya pernah melakukan petting, fingering, dan kissing dengannya. Kami mengakui bahwa hasrat seksual kami besar dan kami tidak dapat menahannya. Pria ini adalah pria pertama yang membuat saya nyaman, sedangkan dia telah melakukan hubungan seksual secara intim pada beberapa wanita sebelum bertemu dengan saya. Saya memiliki ketakutan apakah saya beresiko terkena IMS, apakah saya baik untuk melanjutkan hubungan dengannya, apakah saya akan menikah dengannya, dan apakah saya harus membuka aib pada masing-masing orang tua kami? Pemikiran pemikiran negative kerap muncul pada diri saya selama setahun ini. Tidak pernah menjalani hubungan seperti ini sebelumnya membuat saya pernah menarik diri dari pergaulan sosial. Saat ini saya masih berhubungan baik dengannya, masih saling mensupport, tidak mencari pasangan lain, dan membayang kan masa depan bersama. Sejujurnya saya ingin melanjutkan hubungan serius dengannya sebab saya melihat ada perubahan yang lebih baik dengannya selama menjalani hubungan dengan saya. Namun, saya berasal dari latar belakang keluarga jawa dan islam, sehingga saya memikirkan akan dosa dan bibit bebet bobot nya kelak. Sudah setahun ini saya memikirkan hal ini terus menerus hingga saya menjadi overthinking, pemarah, dan kurang fokus dalam beraktivitas. saya mohon bantuannya untuk menemukan solusi atas permasalahan saya ini, trimakasih banyak.

 

Jawaban:

Selamat siang Diana,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena telah mempercayakan permasalahan anda dan menghubungi Psikologi Online.

Menjalin hubungan tanpa status sebenarnya adalah hal yang beresiko karena tidak ada komitmen dalam hubungan tersebut, salah satu pihak bisa saja meninggalkan pihak yang lainnya atau dengan mudah berpaling ke yang lain karena tidak adanya komitmen yang mengikat, tentu hal ini akan memberikan kerugian terutama bila gaya pacaran atau kedekatan sudah tidak sehat atau mengarah pada perilaku seksual. Gaya pacaran yang tidak sehat akan memberikan beban psikis, Pertama, sebagai orang yang beriman kita paham bahwa pacaran adalah perbuatan yang dilarang agama apalagi perilaku seksual sebelum menikah, biasanya pelaku akan mengalami kecemasan moralitas, dimana terjadi rasa khawatir atau cemas karena telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan kata hatinya atau nilai-nilai moral. Kecemasan ini bisa muncul secara tiba-tiba dan membuat yang bersangkutan merasa bersalah. Umumnya ketika cemas, individu menjadi tidak fokus, bingung, marah, kesal, dan tidak nyaman.  Nah bila kita lihat lagi, sepertinya dari cerita Diana, kamu mulai mengalami kecemasan moralitas karena melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan hati nurani kamu.
Kedua, bertentangan dengan budaya. Kita hidup dalam budaya timur, dimana perempuan dituntut untuk bersikap sopan, santut baik tutur kata maupun tindak tanduknya, sehingga gaya pacaran atau kedekatan yang tidak sehat biasanya dianggap sebagai perilaku yang tidak sesuai budaya hal ini tentu akan memberikan pengaruh pada cara pandang masyarakat terhadap nilai diri kita, masyarakat akan menganggap diri kita rendah dan pelaku pun akan merasa berjarak dari lingkungan karena melakukan hal yang tidak sesuai norma perilaku normal di masyarakat sehingga muncul perasaan kesenjangan diri dengan lingkungan sosial. Kondisi ini bisa mempengaruhi rasa percaya diri dan penarikan diri pelaku untuk bersosialisasi di lingkungan.
Ketiga, perilaku seksual yang tidak tepat tentu dapat memberikan peluang tertularnya penyakit seksual atau infeksi menular seksual(IMS) selain HIV karena HIV hanya akan tertular jika terjadi pertukaran cairan atau darah dengan penderita. Ketika melakukan petting, kissing, dan fingering terjadi sentuhan kulit sehingga berbagai bakteri dapat berpindah ke tubuh anda, apalagi teman dekat kamu sering berganti-ganti pasangan maka semakin besar resiko untuk tertular IMS karena kondisi kesehatan dan kebersihan pasangan tidak diketahui apakah ia bebas dari penyakit tertentu.
Diana yang baik, jika kita telaah lagi berbagai resiko yang muncul baik karena gaya pacaran yang tidak sehat maupun menjalin hubungan tanpa status sepertinya banyak dampak negatifnya, iya kan? oleh sebab itu akan lebih baik bila Diana mulai menjalin hubungan yang sehat.

Sebenarnya perilaku kissing, peeting dan fingering adalah awal dari aktifitas seksual, biasanya individu yang memiliki kebutuhan seksual tinggi akan merasa frustasi ketika kebutuhannya tersebut tidak terpenuhi, sehingga mereka akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, oleh sebab itu perlu usaha ekstra apabila Diana ingin mengubah perilaku teman kamu tersebut, dan yang penting ia pun memiliki niat untuk menekan kebutuhan seksualnya, karena apabila hanya Diana yang memiliki tekad tentu ia akan sulit untuk berubah. Jika ingin tetap melanjutkan hubungan dengan dia, Diana perlu menimbang faktor kemungkinan terburuk yang akan terjadi keesokan hari dari perilakunya saat ini karena perilaku sekarang bisa menjadi indikator perilaku seseorang dikemudian hari, walaupun tidak menutup kemungkinan ia bisa berubah menjadi lebih baik asalkan ada tekat dan usaha yang kuat.

Semoga jawaban saya dapat membantu

Salam Hangat,

Hidup Berubah Setelah Ditinggal Ayah dan Suami

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Nama/Inisial: K

Usia: 27 Tahun

Domisili: Surabaya

Assalamu’alaikum
Saya seorang wanita single parent dan punya satu anak laki2 masih balita.Saya mengalami banyak perubahan dalam hidup saya terutama setelah banyak kejadian/peristiwa yang membuat saya trauma di masa lalu.Saya sekarang merasa sering berubah keinginan, terus saya sering bicara sendiri kadang didalam hati atau bicara ketika beraktivitas.Saya gampang menangis karena sensitif ketika orang menyindir atau menyinggung saya, saya tidak bisa sabar jadi saya langsung balas omongan orang yang menyakiti hati saya sebagai pembelaan.Saya juga suka sekali dengan tidur sampai tetangga bully saya dan tidak suka dengan saya yang banyak tidurnya.Saya suka menunda waktu dan malas mandi.Entah kadang saya tidak bisa mengendalikan diri saya ketika marah dan emosi juga kadang aktivitas saya sehari hari terganggu dengan kemalasan saya dan ketidakmampuan saya untuk “bangkit” menjalankan kewajiban seperti sholat atau aktivitas lainnya seperti mandi nyuci dll.Saya sering sedih sendiri ketika saya teringat kejadian yang buruk dan merasa kasihan pada diri saya sendiri.Saya sering marah dan membantah orang tua setelah perceraian karena saya menikah karena paksaan dari ibu saya juga dengan kondisi kesehatan yang buruk serta belum siap fisik dan mental.Ketika masa perceraian saya mendapat banyak bullyan dan sikap yang buruk dari keluarga dan lingkungan sekitar.Saya jadi menyalahkan kondisi saya kepada ibu saya.Saat itu saya depresi berat dan tidak keluar rumah lama, cuma 1 bulan 1-3 kali hanya untuk belanja kebutuhan anak di mall.Sampai sekarang saya jadi anti sosial dan tidak mau keluar rumah walaupun dalam hati ingin terkena sinar matahari pagi tapi saya takut dengan apa kata orang.Tetangga saya setiap hari selalu buat masalah dengan kata katanya yang mulai menyindir dan menyinggung saya, saya jadi stress dan kadang tidak mau makan malah sering ngomel ngomel dan marah karna tidak terima dengan kata katanya.Saya mengalami kesulitan mengendalikan diri tapi saya masih bisa berfikir logis dan membuat saran terhadap diri sendiri serta mencari jalan keluar dari masalah saya sendiri.Saya merasa harusnya saya dari dulu tidak tinggal di kampung ini, karena selain pengarai orang disini banyak yang kurang baik juga disini banyak kejadian yang membuat saya trauma.Saya berinisiatif untuk ke pondok pesantren juga karena saya ingin bisa sembuh secara mental dan fisik saya.Saya ingin fokus dengan diri saya sendiri, saya rasa menyenangkan kalau saya punya waktu belajar sendiri tapi sayang keluarga saya tidak mengerti dan tidak kasihan dengan saya.Saya pernah merasa seperti orang gila ketika ayah saya meninggal dunia, saya depresi dan benar benar berubah sikap saya 180 derajat, saya sangat pendiam setiap hari diam sedih dan nangis, lalu menyalahkan diri sendiri kalau saya membunuh ayah saya padahal itu semua karena kakak saya yang menyalahkan jadinya saya yang sangat sedih ditinggal ayah tercinta, ketika disalahkan seperti itu ke saya, saya jadi down dan sering menyalahkan dan menyakiti setiap kesalahan sekecil apapun jadi besar sampai saya pernah hampir bunuh diri.Ketika saya depresi saya sering berpikir untuk mati saja, seakan kesalahan saya tidak bisa dimaafkan sekecil apapun itu.Saya sering merasa bersalah sendiri.Maaf kalau curhatannya terlalu panjang.Kira kira saya punya penyakit psikologis apa ya? Lalu bagaimana jalan keluar dari masalah saya dalam hal ini apakah saya butuh perawatan atau butuh obat obatan khusus atau pindah tempat tinggal ? Mohon bantuan saran.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih

Jawaban:

Walaikumsalam, WrWb

Selamat malam Mbak K yang selalu berbahagia dimana pun berada

Terima kasih banyak sudah mempercayakan permasalahan Mbak K ke Psikologi Online. Saya turut simpati dengan peristiwa yang dialami oleh anda pertama peristiwa meninggalnya ayahanda dan kedua perceraian dengan suami, saya paham tidak mudah untuk menerima kehilangan orang yang dicintai apalagi orang tua sendiri. Jika K masih merasa sedih dan menyalahkan diri sendiri atas meninggalnya ayahanda, ini menunjukan K masih dalam tahap anger atau kemarahan, ditahap ini seseorang akan menyalahkan dirinya sendiri maupun orang lain atas meninggalnya seseorang. Untuk lebih jelasnya silahkan baca artikel mengenai dukacita di https://psikologionline.com/2018/02/28/masih-merasa-sedih-setelah-ditinggal-bertahun-bartahun-wajarkah/
Rasa dukacita adalah kejadian yang unik, rasa dukacita dapat dialami oleh individu dalam waktu yang berbeda-beda, dalam jangka waktu bulanan maupun tahunan. Meskipun jangka waktu dukacita lama, lantas bukan menjadi alasan untuk larut dalam kesedihan, sudah saatnya kamu bangun, hal ini memang tidak mudah karena ketika berduka memang diri kita akan diliputi rasa sedih, kecewa dan marah emosi negatif tersebut membuat diri kita merasa tidak berharga, tidak berdaya dan lemas sehingga kita enggan untuk melakukan berbagai aktifitas sehari-hari. Namun dengan usaha dan niat yang kuat akan membantu mengatasi rasa sedih tersebut, Salah satunya bisa adalah mencari dukungan sosial dan mendekatkan diri pada Tuhan, dengan mendekatkan diri perlahan kita akan paham bahawa kematian adalah fitrah setiap manusia dan tidak ada yang bisa menyebabkan kematian kecuali atas kehendak Allah, begitupula kondisi pernikahan K yang mengalami perceraian karena jodoh dan maut adalah kuasa Allah. Lalu mencari dukungan sosial bisa dengan menjalin kembali relasi sosial dengan teman-teman atau melakukan berbagai aktifitas yang menarik bagi kamu. Coba kamu evaluasi aktifitas apa saja yang sudah kamu tingggalkan selama ini? sudah saatnya kamu berlahan mencoba kembali melakukan berbagai aktifitas tersebut.
Jika K ingin pergi ke pesantren ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan, pertama apakah menurut K hal ini akan mengatasi masalah kamu? lalu bagaimana dengan putra kamu jika K memilih untuk pergi ke pesantren? Jika ia dititipkan dengan ibu di rumah, apakah tidak akan menimbulkan masalah yang baru lagi? Sebaiknya K membuat keputusan dengan bijak dengan melibatkan atau berdiskusi dengan keluarga terutama yang berhubungan dengan anak anda.
Hal mungkin yang bisa K lakukan adalah mencari pekerjaan, dengan bekerja K akan memiliki keuangan yang mandiri sehingga K bisa merencanakan kehidupan ke depan akan seperti apa, misalnya menyewa rumah, membuka tabungan, dll. Berhubungan dengan pendapat K mengenai tetangga yang tidak suka dan sering menyakiti hati kamu, ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan terkait hal tersebut. Pertama,apakah itu dilakukan oleh semua orang dilingkungan kamu? Kedua, apakah semua orang tidak ada yang menyukai kamu? Ketiga, apakah kamu benar-benar mendengar dan melihat mereka tidak suka dengan kamu? Silahkan K bisa menjawab dan melakukan refleksi dari pertanyaan saya tadi. Perlu K ketahui bahwa ketika sedang sedih otomatis pikiran dan persepsi kita mengenai lingkungan akan menjadi negatif, hal ini lah yang kadang membuat seseorang mengambil kesimpulan yang keliru karena memiliki persepsi yang buruk terhadap orang lain atau lingkungan. Semakin kamu khawatir dan memikirkan hal tersebut maka akan semakin besar pula pikiran negatif kamu terhadap lingkungan.

Mungkin beberap tips ini bisa membantu kamu untuk menghadapi kesedihanmu:
1. Mulai melakukan aktifitas. Mulailah melakukan berbagai aktifitas maupun olahraga, seperti melakukan kegiatan fisik yang ringan, contohnya menyapu, memasak dan mebereskan rumah lakukan secara konsisten setiap hari dan bila ada waktu senggangng bisa mencoba olahraga dengan berjalan santai di luar rumah, tidak perlu terlalu lama cukup 10-15 menit per hari.
2. Jalin relasi sosial. Bangun kembali relasi sosial dengan teman-teman kamu dahulu, bisa dengan sms, menelpon dan bertemu dengan mereka. Intinya jalin kembali persahabatan kamu dengan temann-teman
3. Menulis. Nah, K bisa mencoba menuliskan semua pikiran dan perasaan kamu selama ini, dibandingkan dengan hanya memikirkannya saja atau berbicara sendiri akan jauh lebih baik bila dituliskan karena dengan menulis akan membantu melihat permasalahan dari sisi yang berbeda. Lakukan aktifitas menulis setidaknya 5 menit untuk meluapkan emosimu dan usahakan keesoknya baca kembali apa yang telah kamu tulis tersebut. Menulis bisa dilakukan setiap kali kamu merasa sedih  atau saat tidak nyaman.
4. Rekreasi. Kamu bisa melakukan aktifitas menyenangkan yang disukai, bisa dengan mengajak anak maupun keluargamu yang lain. Kegiatan rekreasi ini juga dapat mendepatkan kembali hubungan kekeluargaan kalian

SIlahkan K coba beberapa tips di atas, namun bila K merasa semakin buruk jangan ragu untuk mendatangi layanan profesional di wilayah kamu. Semoga jawaban saya bisa membantu meringankan masalah kamu ya.

Salam hangat

Psikologi Online

Masih Merasa Sedih Setelah Ditinggal Bertahun-Bertahun, Wajarkah?

Artikel
Another Blank Sign – this time a final one… a gravestone

Merasa sedih setelah mengalami kehilangan atau ditinggalkan oleh orang terdekat untuk selama-lamanya adalah hal yang wajar, dukacita merupakan respon alami yang diberikan setelah seseorang mengalami kehilangan. Namun setelah sekian lama ternyata dukacita tak kunjung reda juga, sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya apakah hal ini wajar atau jangan-jangan mengalami stress pasca kehilangan ? untuk dapat menjawabnya kita perlu memahami proses dukacita. Dukacita adalah pengalaman yang dialami oleh seseorang yang kehilangan orang yang dikasihi karena meninggal dunia. Pengalaman ini akan dialami dalam bentuk reaksi emosi, fisik dan kognitif. Reaksi emosi seperti sedih, marah, kecewa, lelah, sepi dan shock. Reaksi fisik antara lain, mulut menjadi kering, otot-otot menjadi lemas, sesak di dada dan kerongkongan terasa tercekat. Sedangkan reaksi kognitif antara lain, bingung, mengalami halusinasi, dan tidak bisa fokus.  Menurut Kubler Ross individu yang mengalami dukacita akan melewati tahap berikut:

1. Denial atau penyangkalan, tahap ini biasanya merupakan reaksi pertama kali ketika mengalami kehilangan orang yang dicintai. Denial muncul dalam bentuk tidak percaya atau mengingkari bahwa kehilangan atau kematian telah terjadi.
2. Anger atau kemarahan, individu menolak dan merasa marah atas kehilangan yang terjadi, tidak jarang sebagian menyalahkan lingkungan eksternal yang berpeluang untuk disalahkan seperti staff medis maupun orang lain dan ada juga yang justru menyalahkan diri sendiri atas kematian yang terjadi.
3. Bargaining atau tawar menawar, di tahap ini individu melakukan tawar menawar dengan Tuhan melalui doa-doa atau harapan orang yang meninggal dunia tersebut dapat diberikan kesempatan untuk hidup kembali.
4. Depression, pada tahap keempat individu akan merasa sedih yang mendalam, terus menangis, dan menarik diri dari lingkungan. Sebagian individu pada fase ini mungkin bisa melakukan intropeksi atau refleksi diri atas kejadian yang menimpanya namun bila tidak mampu melewati fase ini maka berpeluang untuk mengalami depresi yang lebih serius dikemudian hari.
5. Acceptance atau penerimaan, ditahap ini individu sudah mulai berdamai dan
menerima kenyataan-kenyataan yang terjadi, individu mulai memahami dan menerima peristiwa yang ia alami.

Kelima tahapan berduka yang dikemukan di atas tidak harus berurutan dan tidak harus semuanya dialami oleh orang yang sedang berduka, bisa saja seseorang hanya mengalami satu tahapan atau dua tahap. Durasi yang dibutuhkan seseorang untuk melawati tahap dukacita pun berbeda-beda, proses dukacita sesuatu yang unik karena tidak memiliki rentang waktu yang pasti kapan seseorang selesai melewatinya. Sehingga kita tidak bisa menghakimi seseorang mengalami stress pasca kematian karena ia masih terlihat sedih walaupun telah ditinggal oleh orang yang ia cintai bertahun-tahun lamanya apalagi jika semakin dekat hubungan dengan orang yang telah meninggalkankannya maka akan semakin lama proses untuk melewati masa dukacita, selain itu durasi dukacita pun dipengaruhi oleh proses kematian dan usia, apabila kematian terjadi secara mendadak atau bahkan terlibatnya individu lain dalam kematian (seperti bunuh diri atau korban kejahatan, kecelakaan, dll) serta usia yang ditinggalkan relatif muda maka berpeluang untuk mengalami dukacita yang semakin lama. Yang perlu diwaspadai adalah gangguan atau efek dari dukacita tersebut, jika dukacita malah memberikan pengaruh negatif seperti menjadi sakit secara fisik, kondisi tubuh menurun dan kehilangan minat terhadap lingkungan luar maka kondisi ini bisa menjadi indikasi adanya masalah patologis dan perlu ditangani.

Lalu bagaimana agar individu tidak berlarut-larut dalam dukacita ? proses dukacita adalah proses yang tidak bisa dipaksakan artinya kita tidak bisa memaksa seseorang untuk dengan cepat melewati dukacita, setiap individu membutuhkan waktu berbeda-beda untuk melewatinya. Salah satu yang bisa membantu seseorang melewati dukacita dengan baik adalah tersedianya dukungan sosial, dukungan sosial yang ada dapat memberikan rasa diterima, diperhatikan, dan dicintai oleh orang lain. Dukungan sosial bisa dalam bentuk mengucapkan belasungkawa, datang ke acara pemakaman, membantu proses pemakaman dan berkunjung kerumah yang sedang berduka setelah beberapa hari kematian. Umumnya individu hanya hadir saat proses pemakaman atau ketika acara kematian namun sebenarnya yang juga sangat dibutuhkan adalah kepedulian mereka setelah beberapa hari proses pemakaman karena pada saat itu orang yang ditinggalkan akan merasakan kesepian dan sedang berusaha menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupannya sehingga kehadiran dukungan sosial akan membantu mereka untuk mengatasi rasa sepi dan menguatkan mereka untuk beradaptasi terhadap perubahan. Selain dukungan sosial tentu faktor dalam diri individu juga perlu dilakukan, berikut hal yang dapat dilakukan untuk memberikan semangat baru pasca kematian:

  1.  Berikan waktu untuk bersedih, berikan waktu pada diri sendiri untuk bersedih dan meluapkan emosi yang dialami. Namun jangan lupa untuk memberikan batasan waktu pada diri sendiri kapan saatnya untuk bangkit kembali, setelah rasa sedih “puas” diungkapkan langkah berikutnya adalah membuka diri terhadap lingkungan.
  2. Bangun relasi sosial, mulailah untuk membangun kembali relasi sosial dengan lingkungan, jalin kembali relasi dengan mulai untuk berkumpul dengan teman-teman, melakukan berbagai aktifitas sehari-hari dan ngobrol dengan orang lain baik mengenai perasaan kamu maupun mengenai hal-hal yang ringan.
  3. Manjakan diri, kamu pun bisa memanjakan diri dengan melakukan berbagai aktifitas yang menyenangkan. Dengan melakukan berbagai aktifitas yang menyenangkan dapat membangkitkan kembali semangat dan rasa senang dalam diri.
  4. Dekatkan diri pada tuhan, ini hal yang cukup penting karena dengan mendekatkan diri pada Tuhan akan membantu kita melihat peristiwa dengan lebih bijak dan dari perspektif berbeda.

Stress Di Lingkungan Kerja Baru

Tanya Jawab
Nama: Meilinda
Pertanyaan:
Saya merupakan lulusan Hub Internasional dari sebuah perguruan tinggi swasta dgn jurusan Hubungan Internasional. Lulus di tahun 2015, dan mulai bekerja di thn 2016 sampai pada saat ini di universitas tempat saya kuliah di bagian Humas dan Pendaftaran Mahasiswa Baru. Awalnya saya pikir ini batu loncatan, namun sampai sekarang saya belum dapat pekerjaan baru. Hal yg membuat saya sangat ingin keluar dari tempat saya kerja sekarang adalah:
1. saya merasa ilmu saya selama kuliah terbuang. Bahkan bahasa asing pun tidak pernah saya gunakan di tempat kerja sekarang.
2. Lingkungan kerja yang tidak bersahabat dimana ada kelompok yang menonjol yakni orang lama yang sangat terlihat menentang pimpinan sekarang misalnya dalam 22 hari kerja, telat kerja sejumlah 19 hari kerja. Namun hanya ditegur saja oleh pimpinan.
3. Terkadang saya menyampaikan keluhan saya ke pimpinan terkait pekerjaan saya karena orang-orang lama sangat jarang membantu sehingga kerjaan mereka diberikan kepada orang baru termasuk saya. Namun pimpinan malah menceritakan betapa stress dirinya dan selalu mengatakan tunggu waktunya. Sehingga saya merasa tidak adil.
4. Tidak terkoordinasinya antara biro 1 dengan biro lainnya sehingga mahasiswa terkadang marah kepada saya. Misalnya pembayaran uang kuliah sebesar 3 juta namun tiba2 menjadi 5 juta. Namun bagian keuangan tidak ada koordinasi ke bagian saya.
5. Saya merasa kehilangan arah dan putus asa, saya hanya ingin resign. Namun saya tidak tega jika harus meminta orangtua menanggung diri saya lagi.
Mohon solusinya,
Terima kasih
Jawaban:
Dear  Meilinda,
Terima kasih sudah mempercayakan permsalahan Meilinda ke Psikologi Online,
Sebelumnya saya minta maaf karena emailnya baru terbalaskan, semoga saja jawaban dari saya masih bisa membantu Meilinda dalam menghadapi permasalahan saat ini.
Perlu Meilinda ketahui, tidak semua perusahaan mempunyai sistem yang baik , kadang sistem yang kurang baik dan tidak koordinasi membuat karyawan mengalami stress kerja, jadi tidak heran jika pimpinan kamu juga mengalami masalah yang mungkin sama dengan yang kamu rasakan. Perusahaan dan leader yang baik memang seharusnya memperhatikan kebutuhan serta kesejahteraan karyawan. Karena keberadaan karyawan ikut membantu efektifitas dan keberhasilan perusahaan. Namun banyak perusahaan yang mengabaikannya bahkan kurang memperhatikan kesejahteraan karyawan sehingga mempengaruhi kinerja karyawan dan tidak jarang berujung pada berhenti atau resign kerja. Berhenti kerja tentu sah-sah saja dilakukan, namun sebelum resign rencakan  pekerjaan kamu berikutnya yang akan kamu lakukan.
Sebelum resign mungkin Meilinda bisa terlebih dahulu melamar pekerjaan ke tempat lain, setelah mendapatkan peluang untuk bekerja di tempat lain barulah Meilinda mengajukan diri untuk resign. Dan sepertinya pernyataan Meilinda mengenai ilmu yang terbuang selama kuliah, saya rasa tidak ada ilmu yang terbuang asal kita tahu bagaimana memanfaatkan dan menggunakannya. Terkait dengan bidang kuliah Anda, mungkin Meilinda bisa mengambil pekerjaan part time menjadi pengajar bahasa asing atau yang berhubungan dengan bidang kuliah kamu, saat ini pun bekerja part time bisa dilakukan secara online, ada banyak kelas-kelas bahasa asing yang dilakukan secara online, mungkin Meilinda bisa mencobanya.
Semoga penjelasan dari saya bisa meringankan masalah Meilinda ya.
Salam Hangat

Trauma Pelecehan Seksual

Tanya Jawab

Nama : Ny. Fitri
Selamat pagi. Saya pernah mengalami pelecehan seksual yang terjadi selama beberapa tahun. Hal tsb dilakukan oleh keluarga sendiri. Kejadiannya sekitar 25 tahun lalu. Namun hingga saat ini, saya tidak bisa melupakannya sama sekali. Padahal saya kini sudah berkeluarga dengan nyaman dan pelaku telah wafat. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus hipnoterapi? Mohon bantuannya. Terimakasih.
JAWABAN:
Selamat malam Ny Fitri.
Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan anda kepada Psikologi Online.
Saya turut prihatian atas kejadian yang pernah menimpa anda, memang tidak mudah untuk melupakan kejadian yang kurang menyenangkan. Bisa dikatakan anda masih mengalami gejala traumatic, peristiwa traumatic terjadi secara tiba-tiba tidak diharapkan dan mengancam kehidupan seseorang. Individu yang mengalami traumatic akan merasakan beberapa hal berikut:
1. Mengalami kembali kejadian traumatik, baik teringat kembali kejadian tersebut dan mengalami mimpi buruk tentang hal tersebut, kondisi ini dapat menyebabkan penderitaan emosional
2. Penghindaran stimuli yang diasosiasikan dengan kejadian terkait atau mati rasa dalam responsivitas, individu cenderung menghindari berbagai kondisi,tempat yang dapat mengingatkan pada kejadian tersebut atau mengalami amnesia terhadap kejadian tersebut
3. Mengalami ketegangan atau cemas, seperti sulit tidur, sulit konsentrasi atau waspada berlebihan, dll
Gejala di atas adalah respon pertahanan diri yang dibentuk oleh tubuh atau diri kita untuk tetap bertahan dari kerusakan atau rasa khawatir. Sebagian orang mungkin akan bisa bangkit dan mengatasinya namun tidak jarang beberapa orang membutuhkan waktu untuk mengatasi pengalaman traumatic. Yang perlu digaris bawahi adalah mengatasi dengan memaafkan atau mengampuni bukan melupakan, mungkin kejadian itu tidak akan pernah terlupakan namun kejadian tersebut sebaiknya termaafkan, karena dengan memaafkan walaupun kita ingat kembali kejadian tersebut kita tidak akan mengalami gejolak emosi lagi. Memang tidak mudah untuk memaafkan, oleh karena itu Fitri bisa mencoba terlebih dahulu menyalurkan emosi yang mungkin belum pernah diungkapkan ke pelaku, Fitri bisa membayangkan sedang berhadap atau berbicara dengan pelaku lalu ungkapkan semua emosi yang Fitri pendam atau rasakan selama ini. Katakan “saya marah dengan sikap kamu”, “saya tidak terima dengan perilaku kamu”, dll. Ungkapkan semua yang menurut Fitri perlu diungkapkan, katakan sampai Fitri merasa lega dan puas. Jangan lupa diakhir, Fitri ungkapakan penerimaan maaf dari kamu, bahwa kamu telah memaafkan dan mengampuni pelaku.  Semoga dengan teknik sederhana ini Fitri bisa merasa jauh lebih baik. Perlu diingat juga, memaafkan membutuhkan proses, mungkin dalam proses memaafkan nanti tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, jangan menyerah ya.
Apabila dengan tips ini tidak membuahkan hasil dan Fitri masih merasa terganggu dengan kondisi saat ini, mungkin Fitri bisa mendatangi Psikolog langsung untuk tindakan lebih lanjut.
 Salam Hangat

Tips Bagi Yang Pertama Kali Merantau

Tanya Jawab

Dari : I

Pertanyaan:

saya sekarang duduk di bangku kelas 1 SMA yg baru beradaptasi dengan sekolah baru dan jauh dari rumah dan mengharuskan untuk ngekost. Dan jujur saya ga bisa jauh dari orang tua dan rumah jadi berat banget. Apakah itu bisa berpengaruh dengan belajar saya di sekolah dan bagaimana solusinya? Terimakasih sebelumnya🙏🏻

 

Jawaban:

Dear I

Terima kasih sudah menghubungi dan mempercayakan permasalahan icha ke kami.
Saya bisa memahami bagaimana kekhawatiran icha yang tinggal jauh dari keluarga, apalagi ini adalah hal yang baru untuk I. Umumnya seseorang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, mungkin ada kekhawatiran, takut atau sedih karena jauh dari keluarga dan dituntut untuk mandiri, tentu ini adalah hal yang normal sekali. Waktu yang dibutuhkan individu untuk beradaptasi biasanya berlangsung dalam waktu tiga bulan, apabila dalam waktu tiga bulan tersebut dirasa tidak ada perubahan atau malah muncul kekhawatiran yang lebih besar lagi maka sebaiknya icha mendatangi tenaga kesehatan seperti psikolog untuk penanganan lebih lanjut.
I yang baik, mungkin icha belum siap untuk berpisah dengan orang tua, sehingga banyak pikiran negatif yang membayangi I. Namun icha perlu meyakinkan diri bahwa apa yang icha lakukan saat ini adalah untuk masa depan kamu kelak. Untuk mengusir rasa rindu kamu dengan keluarga mu, kamu bisa menggunakan teknologi untuk menghubungi mereka, bukankah sekarang banyak teknologi yang bisa digunakan seperti video call dll. Belajar untuk mengembangkan relasi sosial dan bangun relasi sosial yang luas dengan teman teman agar kamu memiliki banyak teman dan usahakan isi waktu luang dengan melakukan berbagai kegiatan positif, bisa dengan mengikuti ekstrakulikuler atau ikut kursus.
Semoga jawabannya bisa membantu kamu ya.

Salam hangat.

Psikologi online

Dikucilkan Dalam Perkuliahan

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Nama : Dyan

Saya adl mahasiswa magister, kuliah saya sudah berjalan skitar 1 tahun. Ketika saya masih semester 1 saya pernah mengalami kejadian tdk menyenangkan di kelas. Saat itu saya sedang presentasi, dan tanggapan dosen saya membuat saya cukup malu di hadapan teman-teman sekelas saya. Selanjutnya pada presentasi ke dua kali, saya di beri tanggapan bahkan lebih parah. Kata-kata yg dosen saya gunakan memang halus, namun saya merasa kepribadian saya dijatuhkan di depan kelas dan di lihat oleh semua yg hadir saat itu. Awalnya saya hanya merasa tindakan yg dilakukan dosen saya itu menyakitkan, namun seiring berjalan waktu saya merasa kehilangan percaya diri dan semangat saya dalam mengerjakan tugas kuliah. Ditambah lagi dengan lingkungan pertemanan saya setelah itu membuat saya merasa dikucilkan. Saya merasa sering diabaikan ketika berbicara, tidak dianggap sebagai masukkan atau dipertimbangkan dalam diskusi. Saya sempat curhat dengan teman sebaya saya, mungkin perbedaan kultur yg membuat saya susah begini. Saya anggap pernyataan teman sebaya saya itu sebagai masukkan untuk lebih baik dalam beradaptasi, ya karena memang saya kuliah di luar pulau asal saya. Hal itu cukup menenangkan saya selama beberapa waktu. Kejadian berikutnya membuat saya smakin yakin bahwa saya di tolak di lingkungan kelas saya, saya pernah mengajukan diri untuk ikut dalam sebuah diskusi kelompok dan ditolak dengan alasan yg masih masuk akal yaitu beda “pokok bahasan”. Saya terima alasan itu. Namun pada hari H diskusi saya malah menemukan dalam diskusi itu ada anggota yg tidak termasuk dalam kelompok “pokok bahasan” yg sama. Saya masih diam dengan hal itu. Saya mencoba berfikir positif. Saya meredam kesal saya yg seolah merasa diabaikan dan dikucilkan. Selanjutnya hal yg sama, ketika ada tugas yg susah dan saya baru tahu bahwa 50% anggota kelas belajar bersama sementara saya bahkan tidak tau. Kalau memang alasan mereka tidak mengajak saya karena saya tidak menanyakan atau mengajukan diri untuk ikut belajar bersama, bagaimana saya tau jika bahkan tidak ada yg memberitahu. Jika memang berniat baik pasti sekedar mengabari akan belajar bersama terlepas saya mau ataupun tidak. Saya sungguh kesal pada saat ini. Mereka bahkan tidak peduli sama sekali pada saya meskipun sudah tahu bahwa saya bukan anak yg pintar dan memerlukan teman diskusi untuk belajar. Jujur saya lelah menghadapi lingkungan seperti ini ketika saya merasa paling bodoh dan dikucilkan. Mohon tanggapannya terimakasih

Jawaban:

Dear Diyan,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena sudah mempercayakan permasalahan anda ke Psikologi Online. Saya paham bagaimana perasaan anda merasa diabaikan oleh lingkungan, pasti sedih dan jengkel sekali rasanya apalagi jika usaha dalam membuat tugas dan pendapat kita kurang dihargai oleh dosen maupun teman yang lain.
Perlakuan-perlakuan negatif dari lingkungan memang akhirnya dapat memberikan dampak negatif terhadap bagaimana kita menilai diri sendiri, semakin kita menilai diri kita negatif atau buruk maka perilaku kita pun akan ikut menunjukan bahwa kita memang tidak mampu untuk berperilaku positif. Oleh karena itu jangan biarkan hal itu terjadi, jadikan pendapat atau penilain orang lain terhadap kamu sebagai kritikan yang membangun. Artinya kamu bisa belajar untuk lebih baik dari keritikan mereka, contohnya dosen yang mengkritik presentasi, coba kamu cari tahu apa yang membuat ia mengeluarkan kritikan tersebut.  Dalam presentasi ada dua hal yang menjadi dasar utamanya, pertama isi materi dan kedua cara penyampaian materi. Mungkin saja presentasi kamu yang kurang lengkap atau kamu kurang menguasai materi dan masih banyak kemungkinan yang lain, dengan kamu mengetahui sumbernya, coba kamu perbaiki kekurangan tersebut. Selain isi materi mungkin yang harus juga diperhatikan dalam presentasi adalah kemampuan micro skill, seperti cara berbicara lantang atau terbata-bata, ekspresi wajah menampilkan percaya diri atau takut, menjalin kontak mata dengan pendengar atau tidak. Micro skill bisa Diyan latih dengan belajar presentasi di cermin, amati apa yang kurang dan perlu ditingkatkan. Serta hal yang perlu diperhatikan terkait diskusi, mungkin Diyan sebelum menyampaikan pendapat bisa terlebih dahulu memperbanyak bahan diskusi dengan membaca buku maupun artikel yang berkaitan dengan topik pembahasan.
Dalam perkuliahan memang cukup penting untuk membangun relasi sosial, tidak ada salahnya kan bila Diyan yang terlebih dahulu menanyakan pada teman-teman mengenai belajar kelompok? Jika Diyan merasa tidak dekat dengan teman-teman satu kelas, mungkin Diyan bisa belajar untuk menjalin relasi yang lebih dekat dan terbuka dengan mereka, bisa dicoba dengan ikut gabung dengan mereka ketika sedang mengobrol atau setelah jam perkuliahan. Ketika teman-teman sudah merasa dekat dengan kamu, biasanya mereka akan lebih terbuka dalam menyampaikan informasi.
Diyan yang baik, memang tidak semua individu terlahir dengan intelektual yang superior namun bukan berarti individu yang memiliki intelektual standar tidak bisa sukses. Terlalu dini bila kita mengatakan kita tidak pandai, karena intelektual tidak melulu pandai dalam bidang akademis karena ada banyak jenis intelektual. Dan yang perlu Dyan ketahui bahwa kesuksesan maupun berhasilan datang dari kerja keras, kemampuan yang terus menerus diasah akan menghasilkan individu yang unggul. Seperti otak manusia yang terus menerus diisi dengan berbagai informasi, pengetahuan, dan keterampilan tentu akan menghasilkan individu yang pandai. usahakan untuk mengisi waktu luang dengan sesekali belajar atau membaca buku. Semoga Diyan tidak patah semangat ya dalam kuliah dan mengejar cita-citanya, tunjukan pada lingkungan bahwa kamu bisa dan berikan penghargaan yang positif pada diri kamu, yakinkan dan katakan pada dirimu bahwa “saya mampu untuk belajar dan memahami berbagai informasi” atau “saya bisa presentasi dengan baik” dll.
Semoga jawaban saya dapat membantu Diyan dalam menghadapi permasalahan saat ini, dan jangan lupa untuk selalu berdoa dan minta bantuan pada Tuhan.
Salam Hangat,