Apa Saya Mengalami Daydreaming ?

Tanya Jawab
Nama / Inisial : T
Usia : 23 Tahun
Pertanyaan:
Selamat malam,
Sebelumnya saya juga pernah konsultasi dengan ibu.
Hampir sama seperti kasus sebelumnya, sejak SD kelas 5 setelah ibu saya meninggal (peristiwa tsunami 26 desember) sampai dengan sekarang. Saya benar-benar kehilangan sosok ibu dalam hidup saya. saya anak pertama dan anak perempuan pertama dari 3 bersaudara. Saya mempunyai 2 orang adik laki-laki (kembar). Saat ibu saya meninggal adik saya yg kembar berumur 5 tahun dan saya 10 tahun. Saya tidak terlalu dekat dengan sosok ayah. Jadi setelah tsunami saya sempat tinggal bersama saudara,(saya tidak tinggal bersama ayah, karena ayah saat itu tugas diluar). adik saya lumayan bandel. Ibu meninggalkan kepada saya 2 org adik disaat usia saya 10 tahun, mungkin sepertinya saya belum cukup matang menghadapi mereka. Alhasil saya sering merasa sedih dan mengingat ngingat ibu saya. Saya merasa saya tidak bisa jadi kakak sekaligus ibu yang baik untuk adik2 saya. Belum lagi ditambah masalah berantem tinggal sama saudara. Karena saya tidak dekat dengan ayah, jadi saya tidak pernah menceritakan apapun yang terjadi kepada ayah. Saya lebih memilih diam dan nangis sendiri. Sampai sekarang saya tidak pernah menceritakan apapun kepada ayah saya apapun yang saya alami, baik sering diperlakukan kasar sama saudara, dimarah dan sering berantem. Ayah saya tidak pernah megetahui hal itu. Lagi lagi saya diam dan menangis saja. Setelah 2 tahun berlalu peristiwa tsunami, ayah saya menikah lagi, alhamdulillah saya dekat dengan ibu sambung saya. Tidak ada masalah.
Tetapi Dampak dari peristiwa kejadian setelah ibu saya meninggal berdampak sampai sekarang, saya sering sekali melamun dalam keadaan apapun, baik itu dirumah, kantor, dijalan, mau tidur, lg nonkrong atau lg makan. Bahkan sedang membacapun saya bisa menghayal atau melamun hal lain, lari dari topik buku yang saya baca. Dan saya juga sering berubah mood tiba-tiba bu, yang tadinya biasa saja di ganggu sedikit langsung bisa marah tiba-tiba (terkadang saya mencoba tahan emosi saya). Terus rasa malas yang berlebihan sering saya rasakan, dalam arti saya benar-benar malas dalam hal apapun, malas keluar rumah, malas ketemu orang, malas mandi, untuk makan saja saya malas bangun. Rasanya lebih nyaman dirumah saja. Terkadang rasa malas saya bisa berdampak takut ketika keluar rumah. Contohnya saya malas ke kantor takut ketemu org kantor, padahal ketika ketemu tidak ada terjadi apa-apa. Baik-baik saja.
Bu, kadang saya suka murung sendiri kalau mengingat sesuatu, dalam keadaan saya seperti itu terkadang saya memilih untuk tidur dan menghayal sesuatu yang bisa buat hati saya senang (paling sering berhayal hidup di eropa, jauh dari orang2 yang saya kenal sekarang). Hampir setiap hari waktu luang saya, saya gunakan untuk menghayal/melamun sesuatu.
Bu, apa yang membuat saya seperti ini? Saya berhayal tentang diri saya yang bisa melakukan hal yang saya inginkan. Ntah itu menjadi orang hebat atau sebaliknya.
Sebelumnya saya pernah membaca artikel ciri-ciri pelamun mengindap Maladaptive daydreaming (MD), apakah benar saya mengidap MD bu?
Kalau dari segi ilmu psikolog, bagaimana cara saya mengatasinya? Apakah ini penyakit? Mohon sarannya bu.
Terima kasih,
Jawaban: 

Dear T,

Terima kasih sudah mempercayakan permasalahan T ke Psikologi Online.com. Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa keluarga T, pasti sedih rasanya kehilangan orang yang terdekat apalagi ibu, yang merupakan significant other bagi anak-anaknya.

Terkait beberapa pertanyaan yang T ajukan, saya akan terlebih dahulu membahas mengenai MD, MD adalah suatu kondisi dimana individu berkhayal atau berfantasi terlalu ekstrem sehingga memberikan dampak negatif. Dalam psikologi daydreaming merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang diciptakan individu sendiri. Individu menciptakan daydreaming untuk melindungi dirinya dari kecemasan atau kekhawatiran. Bisa jadi T melakukan daydreaming karena ada rasa cemas, takut, atau khawatir sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Untuk meminimalisir rasa cemas atau khawatir dan mengembalikan rasa nyaman dibentuklah perilaku daydreaming. Daydreaming berfungsi sebagai pelarian dari realitas dengan menciptakan khayalan sendiri. Lambat laun individu akan menghindari realitas karena ia merasa nyaman hidup dengan khayalan yang ia ciptakan.

Yang perlu T ketahui, Individu yang terlalu banyak menciptakan pertahanan diri adalah individu yang kurang memiliki kemampuan adaptasi yang positif. Saya rasa T bisa mengevaluasi seperti apa kemampuan adaptasi T selama ini terhadap berbagai tekanan dari lingkungan. Untuk adaptasi yang baik dalam berbagai situasi, tentu diperlukan kedewasaan, keberanian dan kepercayaan diri. Tidak mudah untuk belajar beradaptasi, namun dengan proses sepanjang hidup dengan keterbukaan terhadap berbagai pandangan penyelesaian masalah akan membantu individu untuk belajar beradaptasi dengan tekanan-tekanan dari lingkungan.

Pertanyaan saya adalah, sampai kapan T akan seperti ini terus? apakah dengan menarik diri dari lingkungan, terus menerus sedih dan mengakhiri hidup akan menyelesaikan masalah? yang ada bukan menyelesaikan masalah namun menambah beban psikis kamu. Sudah saatnya sekarang Ta belajar membuka diri baik dengan lingkungan maupun dengan keluarga. Jika ada permasalahan dalam keluarga akan lebih baik bila dibicarakan, kemukakan apa yang tidak T sukai dari mereka dan apa yang T harapkan dari mereka. Begitupun dengan lingkungan, coba untuk membangun relasi sosial, tidak ada salahnya mungkin berkumpul dengan teman atau ikut bergabung dalam komunitas tertentu, bergabung dalam lingkungan sosial juga merupakan support group yang bisa memotivasi kita untuk lebih baik. Biasakan untuk membicarakan perasaan kamu bila ada konflik, karena tidak baik bila memendam emosi, emosi yang dipendam akan terakumulasi, seperti bom waktu kita tinggal menunggu saja emosinya meledak yang bisa memberikan dampak pada psikis dan fisik. Saya paham mungkin dalam menjalankannya tidak semudah membalikan telapak tangan, tapi dengan keinginan yang kuat diikuti tindakan nyata saya yakin Tari bisa bangkit kembali. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah dan meminta bantuanNya, karena dengan bantaunNya lah kita bisa menghadapi semua permasalahan yang ada.

Semoga jawaban saya dapat meringankan beban kamu.

 

Salam Hangat,

 

Psikolog Online