Nama : Tari

Pertanyaan:

Saya tidak tau permasalahan apa sebenarnya yg terjadi dalam diri saya, tetapi hal yang paling membuat saya nyesek atau menyesal sampai saat ini adalah saya selalu merasa bodoh. Apa yg saya belajar semua tidak terekam di otak saya. Bahkan saya sedang membaca pun kadang menghayal sesuatu yg lain. Saya sekarang terkadang dengan menghayal lebih senang rasanya. Hidup saya sekarang itu seperti dikontrol dengan hayalan-hayalan saya.  saya selalu menyalahkan keadaan, menyalahkan masalalu, dan berandai-andai seandainya itu tidak terjadi. Saya merasa diri saya ini tidak bisa ditempatkan pada posisi berfikir untuk belajar ketika hal lain dalam hidup juga dipaksakan utk difikir dan dijalani,

Mba psikolog, Perlu mba ketahui, saya seperti ini sesudah ibu saya meninggal pada saat umur saya 10 tahun. Rasa trauma hidup pahit dengan orang lain setelah kehilangan ibu membuat saya stres yg berdampak sampai saat ini yg sering berandai-andai seandainya masih punya ibu pasti hidup saya tidak seperti ini. Dada saya sering sakit krn tahan untuk tidak menangis, alhasil saya jadi nyesek sendiri.
semoga ada masukan dari ilmu psikolog apa sebenarnya yang sedang saya hadapi.

Jawaban:
Dear Tari,
Terima kasih telah mempercayakan permasalahan anda kepada Psikologi Online.
Saya turut berduka cita atas meninggalnya ibunda Tari, saya dapat memahami bagaimana rasa sedih ditinggal oleh orang yang kita sayangi.
Berdasarkan pertanyaan Tari, perlu saya garis bawahi dahulu adalah (1)kata-kata tari mengenai “seandainya itu tidak terjadi” yang Tari maksud dengan kalimat “itu” tersebut apa? Apakah kata “itu” merujuk pada peristiwa meninggalnya ibu atau peristiwa lain?, dan (2) apa yang tari khayalkan?
Jika yang dimaksud adalah peristiwa yang menyangkut meninggalnya alhmarhumah ibu saudara, maka ada kemungkinan Tari masih mengalami dukacita. Rasa duka merupakan proses alami yang merupakan respon emosional dari peristiwa kehilangan, seperti kematian. Respon emosional yang diberikan ketika mendapatkan musibah kematian bisa berbagai bentuk seperti, marah, sedih, tidak berdaya bahkan bila terus berlarut-larut bisa berujung pada kondisi depresi. Walaupun telah bertahun-tahun peristiwa kehilangan terjadi namun rasa dukacita bisa terus dialami individu, apalagi jika yang meninggal adalah orang yang memiliki kedekatan emosional. Dalam hal ini, sosok ibu merupakan individu yang sangat berpengaruh sekali dalam hidup Tari sehingga masih menimbulkan rasa duka dalam diri tari.
Pada umumnya Rasa dukacita dibagi menjadi empat fase, antara lain: 1. Mati rasa atau penyangkalan, 2. Kerinduan emosional terhadap orang yang dicintai & penyangkalan sebagai bentuk protes terhadap peristiwa kematian, 3. Disorganisasi kognitif dan despire, pada fase ini individu yang ditinggalkan akan mengalami hambatan dalam aktifitas sehari-hari, 4.Reorganisasi kognitif atau munculnya kesadaran diri, pada tahap ini individu sudah mulai bisa menerima keadaan. Keempat fase tersebut berdiri sendiri dan bisa jadi individu hanya akan mengalami satu fase saja atau mengalami lebih dari satu fase dalam menghadapi dukacita.
Dari empat fase tersebut, ada kemungkinan Tari mengalami fase kerinduan emosional dan fase disorganisasi kognitif & despire, kondisi emosi yang tari alami, seperti rasa marah dan sedih memberikan pengaruh pada kondisi mental maupun fisik, dimana tari menjadi tidak memiliki dorongan maupun kesulitan untuk melakukan aktifitas dengan lebih baik, serta kerinduan yang mendalam membuat tari menciptakan khayalan-khayalan tersendiri menganai almarhumah ibu. Kedua kondisi tersebut bisa mempengaruhi kognitif terutama menghambat proses konsentrasi sehingga menghambat proses belajar yang efektif.
Saya bisa memahami bagaimana perasaan Tari kehilangan sosok seorang ibu, emosi sedih, tidak berdaya dan mungkin marah bergejolak dalam diri Tari. Namun, yang jadi pertanyaan, sampai kapan Tari terus memelihara emosi-emosi tersebut? emosi negatif hanya akan merusak diri Tari, bukankah jauh lebih baik jika Tari mengikhlaskan. Terkait kesering kamu melamun, sebenarnya kamu mengkhayal kearah mana? apakah ke masa lalu atau ke masa depan. Jika ke masa lalu, cobalah ambil hikmah positif dibalik peritiwa yang Tari alami, jadikan itu sebagai proses pendewasaan. Jika ke masa depan, apakah dengan berkhayal bisa membantu memperbaiki kondisi kamu sekarang & membantu kamu menghadapi masa depan?. Bukankah jauh lebih baik bila bertindak secara nyata untuk memperbaiki keadaan/masa depan. Untuk memperbaiki emosi Tari memang perlu beberapa waktu, bisa hanya hitungan minggu, bulan atau bahkan hitungan tahun, semuanya tergantung bagaimana Tari menyikapinya. Ada beberapa hal sederhana yang dapat tari lakukan untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, Pertama tari terlebih dahulu melepaskan emosi terkait peristiwa rasa dukacita, dibandingkan dengan mengkhayal lebih baik tari tuliskan emosi dan pikiran yang memenuhi isi kepala Tari. Buatlah catatan mengenai emosi, kapanpun tari merasakan emosi yang tidak menyenangkan tari dapat menuliskannya, lakukanlah aktifitas menulis ini sehari minimal 15 menit. Dan usahakan baca kembali tulisan tari tersebut, kegiatan membaca ulang ini bisa dilakukan sehari setelah menulis atau beberapa hari setelah menulis. Kedua, cobalah untuk aktif dalam lingkungan sosial, luangkan waktu untuk sekedar “hangout” dengan teman, jalin relasi sosial serta masuk kedalam komunitas dan sibukan diri dengan berbagai aktifitas yang positif. Ketiga, tari bisa membuat rencana/plan untuk masa depan kira-kira apa yang ingin dicapai dan tuliskan juga secara rinci hal-hal apa yang diperlukan agar keinginanya tercapai, dan jangan lupa tuliskan solusi jika tujuan tersebut tidak tercapai. Untuk mendapatkan hasil yang nyata, lakukanlah ini dengan konsisten.
Semoga membantu
Salam Hangat,
Psikologi Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *