Tips Bagi Yang Pertama Kali Merantau

Tanya Jawab

Dari : I

Pertanyaan:

saya sekarang duduk di bangku kelas 1 SMA yg baru beradaptasi dengan sekolah baru dan jauh dari rumah dan mengharuskan untuk ngekost. Dan jujur saya ga bisa jauh dari orang tua dan rumah jadi berat banget. Apakah itu bisa berpengaruh dengan belajar saya di sekolah dan bagaimana solusinya? Terimakasih sebelumnyaūüôŹūüŹĽ

 

Jawaban:

Dear I

Terima kasih sudah menghubungi dan mempercayakan permasalahan icha ke kami.
Saya bisa memahami bagaimana kekhawatiran icha yang tinggal jauh dari keluarga, apalagi ini adalah hal yang baru untuk I. Umumnya seseorang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, mungkin ada kekhawatiran, takut atau sedih karena jauh dari keluarga dan dituntut untuk mandiri, tentu ini adalah hal yang normal sekali. Waktu yang dibutuhkan individu untuk beradaptasi biasanya berlangsung dalam waktu tiga bulan, apabila dalam waktu tiga bulan tersebut dirasa tidak ada perubahan atau malah muncul kekhawatiran yang lebih besar lagi maka sebaiknya icha mendatangi tenaga kesehatan seperti psikolog untuk penanganan lebih lanjut.
I yang baik, mungkin icha belum siap untuk berpisah dengan orang tua, sehingga banyak pikiran negatif yang membayangi I. Namun icha perlu meyakinkan diri bahwa apa yang icha lakukan saat ini adalah untuk masa depan kamu kelak. Untuk mengusir rasa rindu kamu dengan keluarga mu, kamu bisa menggunakan teknologi untuk menghubungi mereka, bukankah sekarang banyak teknologi yang bisa digunakan seperti video call dll. Belajar untuk mengembangkan relasi sosial dan bangun relasi sosial yang luas dengan teman teman agar kamu memiliki banyak teman dan usahakan isi waktu luang dengan melakukan berbagai kegiatan positif, bisa dengan mengikuti ekstrakulikuler atau ikut kursus.
Semoga jawabannya bisa membantu kamu ya.

Salam hangat.

Psikologi online

Dikucilkan Dalam Perkuliahan

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Nama : Dyan

Saya adl mahasiswa magister, kuliah saya sudah berjalan skitar 1 tahun. Ketika saya masih semester 1 saya pernah mengalami kejadian tdk menyenangkan di kelas. Saat itu saya sedang presentasi, dan tanggapan dosen saya membuat saya cukup malu di hadapan teman-teman sekelas saya. Selanjutnya pada presentasi ke dua kali, saya di beri tanggapan bahkan lebih parah. Kata-kata yg dosen saya gunakan memang halus, namun saya merasa kepribadian saya dijatuhkan di depan kelas dan di lihat oleh semua yg hadir saat itu. Awalnya saya hanya merasa tindakan yg dilakukan dosen saya itu menyakitkan, namun seiring berjalan waktu saya merasa kehilangan percaya diri dan semangat saya dalam mengerjakan tugas kuliah. Ditambah lagi dengan lingkungan pertemanan saya setelah itu membuat saya merasa dikucilkan. Saya merasa sering diabaikan ketika berbicara, tidak dianggap sebagai masukkan atau dipertimbangkan dalam diskusi. Saya sempat curhat dengan teman sebaya saya, mungkin perbedaan kultur yg membuat saya susah begini. Saya anggap pernyataan teman sebaya saya itu sebagai masukkan untuk lebih baik dalam beradaptasi, ya karena memang saya kuliah di luar pulau asal saya. Hal itu cukup menenangkan saya selama beberapa waktu. Kejadian berikutnya membuat saya smakin yakin bahwa saya di tolak di lingkungan kelas saya, saya pernah mengajukan diri untuk ikut dalam sebuah diskusi kelompok dan ditolak dengan alasan yg masih masuk akal yaitu beda “pokok bahasan”. Saya terima alasan itu. Namun pada hari H diskusi saya malah menemukan dalam diskusi itu ada anggota yg tidak termasuk dalam kelompok “pokok bahasan” yg sama. Saya masih diam dengan hal itu. Saya mencoba berfikir positif. Saya meredam kesal saya yg seolah merasa diabaikan dan dikucilkan. Selanjutnya hal yg sama, ketika ada tugas yg susah dan saya baru tahu bahwa 50% anggota kelas belajar bersama sementara saya bahkan tidak tau. Kalau memang alasan mereka tidak mengajak saya karena saya tidak menanyakan atau mengajukan diri untuk ikut belajar bersama, bagaimana saya tau jika bahkan tidak ada yg memberitahu. Jika memang berniat baik pasti sekedar mengabari akan belajar bersama terlepas saya mau ataupun tidak. Saya sungguh kesal pada saat ini. Mereka bahkan tidak peduli sama sekali pada saya meskipun sudah tahu bahwa saya bukan anak yg pintar dan memerlukan teman diskusi untuk belajar. Jujur saya lelah menghadapi lingkungan seperti ini ketika saya merasa paling bodoh dan dikucilkan. Mohon tanggapannya terimakasih

Jawaban:

Dear Diyan,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena sudah mempercayakan permasalahan anda ke Psikologi Online. Saya paham bagaimana perasaan anda merasa diabaikan oleh lingkungan, pasti sedih dan jengkel sekali rasanya apalagi jika usaha dalam membuat tugas dan pendapat kita kurang dihargai oleh dosen maupun teman yang lain.
Perlakuan-perlakuan negatif dari lingkungan memang akhirnya dapat memberikan dampak negatif terhadap bagaimana kita menilai diri sendiri, semakin kita menilai diri kita negatif atau buruk maka perilaku kita pun akan ikut menunjukan bahwa kita memang tidak mampu untuk berperilaku positif. Oleh karena itu jangan biarkan hal itu terjadi, jadikan pendapat atau penilain orang lain terhadap kamu sebagai kritikan yang membangun. Artinya kamu bisa belajar untuk lebih baik dari keritikan mereka, contohnya dosen yang mengkritik presentasi, coba kamu cari tahu apa yang membuat ia mengeluarkan kritikan tersebut.  Dalam presentasi ada dua hal yang menjadi dasar utamanya, pertama isi materi dan kedua cara penyampaian materi. Mungkin saja presentasi kamu yang kurang lengkap atau kamu kurang menguasai materi dan masih banyak kemungkinan yang lain, dengan kamu mengetahui sumbernya, coba kamu perbaiki kekurangan tersebut. Selain isi materi mungkin yang harus juga diperhatikan dalam presentasi adalah kemampuan micro skill, seperti cara berbicara lantang atau terbata-bata, ekspresi wajah menampilkan percaya diri atau takut, menjalin kontak mata dengan pendengar atau tidak. Micro skill bisa Diyan latih dengan belajar presentasi di cermin, amati apa yang kurang dan perlu ditingkatkan. Serta hal yang perlu diperhatikan terkait diskusi, mungkin Diyan sebelum menyampaikan pendapat bisa terlebih dahulu memperbanyak bahan diskusi dengan membaca buku maupun artikel yang berkaitan dengan topik pembahasan.
Dalam perkuliahan memang cukup penting untuk membangun relasi sosial, tidak ada salahnya kan bila Diyan yang terlebih dahulu menanyakan pada teman-teman mengenai belajar kelompok? Jika Diyan merasa tidak dekat dengan teman-teman satu kelas, mungkin Diyan bisa belajar untuk menjalin relasi yang lebih dekat dan terbuka dengan mereka, bisa dicoba dengan ikut gabung dengan mereka ketika sedang mengobrol atau setelah jam perkuliahan. Ketika teman-teman sudah merasa dekat dengan kamu, biasanya mereka akan lebih terbuka dalam menyampaikan informasi.
Diyan yang baik, memang tidak semua individu terlahir dengan intelektual yang superior namun bukan berarti individu yang memiliki intelektual standar tidak bisa sukses. Terlalu dini bila kita mengatakan kita tidak pandai, karena intelektual tidak melulu pandai dalam bidang akademis karena ada banyak jenis intelektual. Dan yang perlu Dyan ketahui bahwa kesuksesan maupun berhasilan datang dari kerja keras, kemampuan yang terus menerus diasah akan menghasilkan individu yang unggul. Seperti otak manusia yang terus menerus diisi dengan berbagai informasi, pengetahuan, dan keterampilan tentu akan menghasilkan individu yang pandai. usahakan untuk mengisi waktu luang dengan sesekali belajar atau membaca buku. Semoga Diyan tidak patah semangat ya dalam kuliah dan mengejar cita-citanya, tunjukan pada lingkungan bahwa kamu bisa dan berikan penghargaan yang positif pada diri kamu, yakinkan dan katakan pada dirimu bahwa “saya mampu untuk belajar dan memahami berbagai informasi” atau “saya bisa presentasi dengan baik” dll.
Semoga jawaban saya dapat membantu Diyan dalam menghadapi permasalahan saat ini, dan jangan lupa untuk selalu berdoa dan minta bantuan pada Tuhan.
Salam Hangat,

Apa Saya Mengalami Daydreaming ?

Tanya Jawab
Nama / Inisial : T
Usia : 23 Tahun
Pertanyaan:
Selamat malam,
Sebelumnya saya juga pernah konsultasi dengan ibu.
Hampir sama seperti kasus sebelumnya, sejak SD kelas 5 setelah ibu saya meninggal (peristiwa tsunami 26 desember) sampai dengan sekarang. Saya benar-benar kehilangan sosok ibu dalam hidup saya. saya anak pertama dan anak perempuan pertama dari 3 bersaudara. Saya mempunyai 2 orang adik laki-laki (kembar). Saat ibu saya meninggal adik saya yg kembar berumur 5 tahun dan saya 10 tahun. Saya tidak terlalu dekat dengan sosok ayah. Jadi setelah tsunami saya sempat tinggal bersama saudara,(saya tidak tinggal bersama ayah, karena ayah saat itu tugas diluar). adik saya lumayan bandel. Ibu meninggalkan kepada saya 2 org adik disaat usia saya 10 tahun, mungkin sepertinya saya belum cukup matang menghadapi mereka. Alhasil saya sering merasa sedih dan mengingat ngingat ibu saya. Saya merasa saya tidak bisa jadi kakak sekaligus ibu yang baik untuk adik2 saya. Belum lagi ditambah masalah berantem tinggal sama saudara. Karena saya tidak dekat dengan ayah, jadi saya tidak pernah menceritakan apapun yang terjadi kepada ayah. Saya lebih memilih diam dan nangis sendiri. Sampai sekarang saya tidak pernah menceritakan apapun kepada ayah saya apapun yang saya alami, baik sering diperlakukan kasar sama saudara, dimarah dan sering berantem. Ayah saya tidak pernah megetahui hal itu. Lagi lagi saya diam dan menangis saja. Setelah 2 tahun berlalu peristiwa tsunami, ayah saya menikah lagi, alhamdulillah saya dekat dengan ibu sambung saya. Tidak ada masalah.
Tetapi Dampak dari peristiwa kejadian setelah ibu saya meninggal berdampak sampai sekarang, saya sering sekali melamun dalam keadaan apapun, baik itu dirumah, kantor, dijalan, mau tidur, lg nonkrong atau lg makan. Bahkan sedang membacapun saya bisa menghayal atau melamun hal lain, lari dari topik buku yang saya baca. Dan saya juga sering berubah mood tiba-tiba bu, yang tadinya biasa saja di ganggu sedikit langsung bisa marah tiba-tiba (terkadang saya mencoba tahan emosi saya). Terus rasa malas yang berlebihan sering saya rasakan, dalam arti saya benar-benar malas dalam hal apapun, malas keluar rumah, malas ketemu orang, malas mandi, untuk makan saja saya malas bangun. Rasanya lebih nyaman dirumah saja. Terkadang rasa malas saya bisa berdampak takut ketika keluar rumah. Contohnya saya malas ke kantor takut ketemu org kantor, padahal ketika ketemu tidak ada terjadi apa-apa. Baik-baik saja.
Bu, kadang saya suka murung sendiri kalau mengingat sesuatu, dalam keadaan saya seperti itu terkadang saya memilih untuk tidur dan menghayal sesuatu yang bisa buat hati saya senang (paling sering berhayal hidup di eropa, jauh dari orang2 yang saya kenal sekarang). Hampir setiap hari waktu luang saya, saya gunakan untuk menghayal/melamun sesuatu.
Bu, apa yang membuat saya seperti ini? Saya berhayal tentang diri saya yang bisa melakukan hal yang saya inginkan. Ntah itu menjadi orang hebat atau sebaliknya.
Sebelumnya saya pernah membaca artikel ciri-ciri pelamun mengindap Maladaptive daydreaming (MD), apakah benar saya mengidap MD bu?
Kalau dari segi ilmu psikolog, bagaimana cara saya mengatasinya? Apakah ini penyakit? Mohon sarannya bu.
Terima kasih,
Jawaban: 

Dear T,

Terima kasih sudah mempercayakan permasalahan T ke Psikologi Online.com. Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa keluarga T, pasti sedih rasanya kehilangan orang yang terdekat apalagi ibu, yang merupakan significant other bagi anak-anaknya.

Terkait beberapa pertanyaan yang T ajukan, saya akan terlebih dahulu membahas mengenai MD, MD adalah suatu kondisi dimana individu berkhayal atau berfantasi terlalu ekstrem sehingga memberikan dampak negatif. Dalam psikologi daydreaming merupakan salah satu bentuk pertahanan diri yang diciptakan individu sendiri. Individu menciptakan daydreaming untuk melindungi dirinya dari kecemasan atau kekhawatiran. Bisa jadi T melakukan daydreaming karena ada rasa cemas, takut, atau khawatir sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Untuk meminimalisir rasa cemas atau khawatir dan mengembalikan rasa nyaman dibentuklah perilaku daydreaming. Daydreaming berfungsi sebagai pelarian dari realitas dengan menciptakan khayalan sendiri. Lambat laun individu akan menghindari realitas karena ia merasa nyaman hidup dengan khayalan yang ia ciptakan.

Yang perlu T ketahui, Individu yang terlalu banyak menciptakan pertahanan diri adalah individu yang kurang memiliki kemampuan adaptasi yang positif. Saya rasa T bisa mengevaluasi seperti apa kemampuan adaptasi T selama ini terhadap berbagai tekanan dari lingkungan. Untuk adaptasi yang baik dalam berbagai situasi, tentu diperlukan kedewasaan, keberanian dan kepercayaan diri. Tidak mudah untuk belajar beradaptasi, namun dengan proses sepanjang hidup dengan keterbukaan terhadap berbagai pandangan penyelesaian masalah akan membantu individu untuk belajar beradaptasi dengan tekanan-tekanan dari lingkungan.

Pertanyaan saya adalah, sampai kapan T akan seperti ini terus? apakah dengan menarik diri dari lingkungan, terus menerus sedih dan mengakhiri hidup akan menyelesaikan masalah? yang ada bukan menyelesaikan masalah namun menambah beban psikis kamu. Sudah saatnya sekarang Ta belajar membuka diri baik dengan lingkungan maupun dengan keluarga. Jika ada permasalahan dalam keluarga akan lebih baik bila dibicarakan, kemukakan apa yang tidak T sukai dari mereka dan apa yang T harapkan dari mereka. Begitupun dengan lingkungan, coba untuk membangun relasi sosial, tidak ada salahnya mungkin berkumpul dengan teman atau ikut bergabung dalam komunitas tertentu, bergabung dalam lingkungan sosial juga merupakan support group yang bisa memotivasi kita untuk lebih baik. Biasakan untuk membicarakan perasaan kamu bila ada konflik, karena tidak baik bila memendam emosi, emosi yang dipendam akan terakumulasi, seperti bom waktu kita tinggal menunggu saja emosinya meledak yang bisa memberikan dampak pada psikis dan fisik. Saya paham mungkin dalam menjalankannya tidak semudah membalikan telapak tangan, tapi dengan keinginan yang kuat diikuti tindakan nyata saya yakin Tari bisa bangkit kembali. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah dan meminta bantuanNya, karena dengan bantaunNya lah kita bisa menghadapi semua permasalahan yang ada.

Semoga jawaban saya dapat meringankan beban kamu.

 

Salam Hangat,

 

Psikolog Online

Peran Psikolog Dalam Dunia Medis

Artikel

Psikolog adalah profesi baru di Indonesia dibandingkan dengan profesi lainnya sehingga hampir sebagian besar masyarakat masih asing dengan psikolog, bahkan penyebutan psikolog pun kadang kurang tepat. Dalam kata psikologi/psikolog harusnya huruf ¬†“p” dibaca dengan tidak terdengar sehingga penyebutanya cukup “sikolog”. Ini hanya sebagian kecil bentuk ketidak tahuan masyarakat mengenai dunia psikologi. Bentuk ketidaktahuan lainnya adalah mengenai ruang lingkup kerja psikolog, mungkin sebagian orang hanya mengenal psikolog sebagai pemberi psikotes atau menangani kasus-kasus perkembangan anak, namun sebenarnya cakupan kerja psikolog tidak hanya terbatas psikotes dan anak, khususnya pada dunia medis.

Dalam dunia medis Psikolog dibutuhkan untuk menangani masalah-masalah psikologis yang tidak bisa diselesaikan secara medis. Masalah-masalah psikologis cukup beragam, mulai dari masalah perilaku, penyesuaian diri, gangguan khawatir berlebihan, stress dan somatoform. Umumnya dalam medis masalah yang berhubungan dengan somatoform cukup banyak, individu yang mengeluhkan suatu penyakit namun secara medis tidak terbukti disebut dengan somatoform, biasanya individu ini mengalami masalah-masalah psikologis yang kadang tidak ia sadari.

Pasien yang didiagnosa mengalami sakit kronis dan membutuhkan pengobatan jangka panjang, tentu akan membuat pasien tersebut shock, sedih, dan mungkin marah. Apabila kondisi psikologisnya tidak segera ikut ditangani maka dapat menimbulkan stress yang lambat laun akan memperburuk kondisi pasien. Adapula gangguan panik atau cemas, ketika pasien mengalami panik ia akan memberikan respon fisik misalnya berupa sesak napas, tentu kondisi ini membahayakan pasien. Oleh sebab itu  masalah panik tersebut perlu dibereskan  karena menjadi inti masalah dan penyebab sesak napas. Gangguan panik termasuk salah satu masalah psikologis yang umumnya berhubungan dengan pola pikir.

Kesehatan psikis dan kesehatan fisik menjadi hal yang saling berkesinambungan, apabila masalah psikis tidak ditangani dengan baik maka kemungkina besar akan membuat individu mengalami kembali sakit fisik. Masalah-masalah psikologis dapat memicu gangguan kesehatan, hampir sebagian besar gangguan kesehatan disebabkan karena masalah psikologis yang tidak terselesaikan. Namun kesadaran dan pemahaman masyarakat akan hal tersebut masih cenderung rendah.

Mengenal Faktor Psikosis

Tanya Jawab

Nama : Hamdhani

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya atas kejadian yang teman saya alami, beliau sedang ada masalah, cukup rumit, saat itu kebetulan ada ibu nya teman saya dan tanpa sengaja ibu nya itu mendengar akan masalah tersebut, tak lama sang ibu pulang ke tempat asalnya, namun setelah pulang ke tempat asalnya sang ibu jadi suka ngelantur, berbicara sendiri, dan parahnya lagi sang ibu tidak mengenal anaknya sendiri (teman saya), lalu bagaimana solusinya dok?

mohon pencerahannya.

Thanks and Regars.
Jawaban:
Dear Hamdhani,
Kami turut prihatin dengan kondisi ibu teman anda, tentu sebagai teman kita pasti menginginkan kehidupan teman kita pun bahagia. Terkait pertanyaan Hamdhani di atas, saya perlu menanyakan, sudahkah dilakukan pemeriksaan kejiwaan ibu teman anda?
Pada dasarnya, mengalami halusinasi, kepercayaan yang menyimpang tentang dirinya,  konteks pembicaraan lompat-lompat dan tidak sesuai, adalah salah satu simptom dari indikasi psikosis. Terjadinya psikosis bisa karena faktor internal dan eksternal, faktor internal berupa genetik atau bawaan dan adanya masalah kerusakan otak. Selanjutnya faktor eksternal diakibatkan adanya  kejadian traumatis yang mengguncang individu, individu yang terlalu lama terpapar dalam kondisi stress maupun kejadian traumatis dalam jangka waktu yang lama maka kemungkinan akan memberikan dampak terhadap kondisi psikologis yang berujung pada depresi, kecemasan, dan psikosis. Psikosis juga rentan dialami oleh individu yang memiliki faktor genetik atau keturunan, karena ketika individu tersebut mengalami permasalahan yang berat dan tidak mampu mengatasi permasalahan maka kecenderung untuk mengalami psikosis cukup besar.
Saran saya silahkan datangi petugas kesehatan seperti psikolog atau psikiatri untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Semoga jawabannya membantu
Salam hangat,

Duka Cita Ditinggal Ibu

Tanya Jawab

Nama : Tari

Pertanyaan:

Saya tidak tau permasalahan apa sebenarnya yg terjadi dalam diri saya, tetapi hal yang paling membuat saya nyesek atau menyesal sampai saat ini adalah saya selalu merasa bodoh. Apa yg saya belajar semua tidak terekam di otak saya. Bahkan saya sedang membaca pun kadang menghayal sesuatu yg lain. Saya sekarang terkadang dengan menghayal lebih senang rasanya. Hidup saya sekarang itu seperti dikontrol dengan hayalan-hayalan saya.  saya selalu menyalahkan keadaan, menyalahkan masalalu, dan berandai-andai seandainya itu tidak terjadi. Saya merasa diri saya ini tidak bisa ditempatkan pada posisi berfikir untuk belajar ketika hal lain dalam hidup juga dipaksakan utk difikir dan dijalani,

Mba psikolog, Perlu mba ketahui, saya seperti ini sesudah ibu saya meninggal pada saat umur saya 10 tahun. Rasa trauma hidup pahit dengan orang lain setelah kehilangan ibu membuat saya stres yg berdampak sampai saat ini yg sering berandai-andai seandainya masih punya ibu pasti hidup saya tidak seperti ini. Dada saya sering sakit krn tahan untuk tidak menangis, alhasil saya jadi nyesek sendiri.
semoga ada masukan dari ilmu psikolog apa sebenarnya yang sedang saya hadapi.

Jawaban:
Dear Tari,
Terima kasih telah mempercayakan permasalahan anda kepada Psikologi Online.
Saya turut berduka cita atas meninggalnya ibunda Tari, saya dapat memahami bagaimana rasa sedih ditinggal oleh orang yang kita sayangi.
Berdasarkan pertanyaan Tari, perlu saya garis bawahi dahulu adalah (1)kata-kata tari mengenai “seandainya itu tidak terjadi” yang Tari maksud dengan kalimat “itu” tersebut apa? Apakah kata “itu” merujuk pada peristiwa meninggalnya ibu atau peristiwa lain?, dan (2) apa yang tari khayalkan?
Jika yang dimaksud adalah peristiwa yang menyangkut meninggalnya alhmarhumah ibu saudara, maka ada kemungkinan Tari masih mengalami dukacita. Rasa duka merupakan proses alami yang merupakan respon emosional dari peristiwa kehilangan, seperti kematian. Respon emosional yang diberikan ketika mendapatkan musibah kematian bisa berbagai bentuk seperti, marah, sedih, tidak berdaya bahkan bila terus berlarut-larut bisa berujung pada kondisi depresi. Walaupun telah bertahun-tahun peristiwa kehilangan terjadi namun rasa dukacita bisa terus dialami individu, apalagi jika yang meninggal adalah orang yang memiliki kedekatan emosional. Dalam hal ini, sosok ibu merupakan individu yang sangat berpengaruh sekali dalam hidup Tari sehingga masih menimbulkan rasa duka dalam diri tari.
Pada umumnya Rasa dukacita dibagi menjadi empat fase, antara lain: 1. Mati rasa atau penyangkalan, 2. Kerinduan emosional terhadap orang yang dicintai & penyangkalan sebagai bentuk protes terhadap peristiwa kematian, 3. Disorganisasi kognitif dan despire, pada fase ini individu yang ditinggalkan akan mengalami hambatan dalam aktifitas sehari-hari, 4.Reorganisasi kognitif atau munculnya kesadaran diri, pada tahap ini individu sudah mulai bisa menerima keadaan. Keempat fase tersebut berdiri sendiri dan bisa jadi individu hanya akan mengalami satu fase saja atau mengalami lebih dari satu fase dalam menghadapi dukacita.
Dari empat fase tersebut, ada kemungkinan Tari mengalami fase kerinduan emosional dan fase disorganisasi kognitif & despire, kondisi emosi yang tari alami, seperti rasa marah dan sedih memberikan pengaruh pada kondisi mental maupun fisik, dimana tari menjadi tidak memiliki dorongan maupun kesulitan untuk melakukan aktifitas dengan lebih baik, serta kerinduan yang mendalam membuat tari menciptakan khayalan-khayalan tersendiri menganai almarhumah ibu. Kedua kondisi tersebut bisa mempengaruhi kognitif terutama menghambat proses konsentrasi sehingga menghambat proses belajar yang efektif.
Saya bisa memahami bagaimana perasaan Tari kehilangan sosok seorang ibu, emosi sedih, tidak berdaya dan mungkin marah bergejolak dalam diri Tari. Namun, yang jadi pertanyaan, sampai kapan Tari terus memelihara emosi-emosi tersebut? emosi negatif hanya akan merusak diri Tari, bukankah jauh lebih baik jika Tari mengikhlaskan. Terkait kesering kamu melamun, sebenarnya kamu mengkhayal kearah mana? apakah ke masa lalu atau ke masa depan. Jika ke masa lalu, cobalah ambil hikmah positif dibalik peritiwa yang Tari alami, jadikan itu sebagai proses pendewasaan. Jika ke masa depan, apakah dengan berkhayal bisa membantu memperbaiki kondisi kamu sekarang & membantu kamu menghadapi masa depan?. Bukankah jauh lebih baik bila bertindak secara nyata untuk memperbaiki keadaan/masa depan. Untuk memperbaiki emosi Tari memang perlu beberapa waktu, bisa hanya hitungan minggu, bulan atau bahkan hitungan tahun, semuanya tergantung bagaimana Tari menyikapinya. Ada beberapa hal sederhana yang dapat tari lakukan untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, Pertama tari terlebih dahulu melepaskan emosi terkait peristiwa rasa dukacita, dibandingkan dengan mengkhayal lebih baik tari tuliskan emosi dan pikiran yang memenuhi isi kepala Tari. Buatlah catatan mengenai emosi, kapanpun tari merasakan emosi yang tidak menyenangkan tari dapat menuliskannya, lakukanlah aktifitas menulis ini sehari minimal 15 menit. Dan usahakan baca kembali tulisan tari tersebut, kegiatan membaca ulang ini bisa dilakukan sehari setelah menulis atau beberapa hari setelah menulis. Kedua, cobalah untuk aktif dalam lingkungan sosial, luangkan waktu untuk sekedar “hangout” dengan teman, jalin relasi sosial serta masuk kedalam komunitas dan sibukan diri dengan berbagai aktifitas yang positif. Ketiga, tari bisa membuat rencana/plan untuk masa depan kira-kira apa yang ingin dicapai dan tuliskan juga secara rinci hal-hal apa yang diperlukan agar keinginanya tercapai, dan jangan lupa tuliskan solusi jika tujuan tersebut tidak tercapai. Untuk mendapatkan hasil yang nyata, lakukanlah ini dengan konsisten.
Semoga membantu
Salam Hangat,
Psikologi Online

Memiliki Orang Tua Posesif

Tanya Jawab

Nama : Lina

Pertanyaan:

Selamat pagi ..
Maaf saya ingin sedikit konsultasi dan meminta pendapat anda.
Jadi begini ibu saya amat sangat posesive setiap saya mau maen keluar saya selalu di marahin.
Saya kan juga bosan kalau suruh berdiam diri di rumah.
Apa saya gak boleh maen.
Sampai” saya oulang kerja harus tepat waktu sampai rumah dan padahal saya terkadang pulang kerja mau makan sebentar di luar sekitar 1 jam.¬† Itu pun saya masih kena marah. Kemudian saya pernah bertanya apa yang di inginkan ibu saya. Dan setelah di jawab ibu saya ingin kalau saya tidak bileh kemana mana di rumah saja. Otomatis saya juga bosan kecuali kalau keluarga sering liburan pasti saya tidak akan bosan. Keluarga saya pun tidak pernah pergi berlibur bersama pernah pun hanya satu kali dua kali. Saya bingung harus bagaimana. Jujur saya amat sangat tertekan. Saya juga sudah besar saya juga punya tanggung jawab.
Saya mohon minta solusi nya

Terima kasih

Jawaban:

Salam Bahagia Lina,
Saya dapat memahami bagaimana perasaan Lina saat ini, merasa bosan dan merasa terikat karena tidak bebas untuk bergerak keluar sesuai keinginan Lina.
Tindakan Lina menanyakan perihal keinginan ibu adalah perilaku yg tepat, akan tetapi akan lebih tepat lagi bila Lina mananyakan alasan dibalik semua perilaku ibu yang melarang untuk keluar. Tentunya ada alasan mendasar yang melatarbelakangi perilaku seseorang, keinginan ibu agar Lina tidak main keluar adalah salah satu bentuk manifestasi dari alasan mendasar yg belum kita ketahui. Apakah karena rasa khawatir terhadap Lina atau karena hal lain?
Yang perlu Lina lakukan selain mencari tahu alasan mendasar tersebut, adalah intropeksi diri. Apakah dulu lina pernah membuat orang tua khawatir atau ada kesalahan-kesalahan yg pernah Lina lakukan hingga membuat orang tua possesive? Ataukah orang tua Lina mengalami trauma yang berhubungan dengan perilaku keluar rumah. Yang perlu digaris bawahi disini adalah apabila penyebab kekhawatiran orang tua karena trauma, artinya trauma tersebut bisa terjadi karena mengalaminya sendiri atau karena mendengarkan atau melihat orang lain yg mengalami kejadian tidak mengenakan, karena sekarang sangat banyak sekali media yang menginformasikan penculikan dan kekerasan terhadap anak. Tentunya apabila terpapar setiap hari tanpa filter mental terhadap berita berita tersebut maka bukan tidak mungkin orang tua akan mengalami kecemasan serta kekhawatiran yg berlebihan terhadap anak apabila berada diluar rumah tanpa pengawasan dari mereka
Tips yang mungkin bisa lina lakukan selain diatas, coba Lina untuk mengkomunikasikan baik baik kepada orang tua, berikan mereka pengertian dan jelaskan akan tugas-tugas dan tanggung jawab Lina di kantor bila mengharuskan untuk lembur atau pulang telat sebaiknya Lina menginformasikan kepada orang tua diawal waktu.   Dan jangan lupa untuk selalu memberikan kabar ke keluarga apabila Lina pulang terlambat.
Selain itu Lina juga mungkin sesekali bisa mengundang teman-teman ke rumah untuk sekedar berkunjung atau kumpul bersama dan jangan lupa kenalkan mereka ke keluarga, hal ini agar keluarga kamu mengenal teman teman kamu selama ini sehingga rasa khawatir mereka berkurang.
Jika Lina merasa quality time dengan keluarga kurang, tidak ada salahnya bila Lina duluan yg membangun quality time, seperti mengajak mereka atau sesekali mentraktir mereka makan diluar. Namun quality time tidak harus didapatkan dengan pergi keluar bersama, quality time dengan keluarga juga bisa didapatkan di rumah, baik ketika sedang makan & menonton tv bersama, ketika melakukan kegiatan tersebut Lina bisa bercanda dengan keluarga atau mengobrol, mulailah dengan hal-hal yang ringan bertahap sampai ke hal-hal yang serius, sehingga lambat laun Lina akan merasa dekat dengan keluarga
Semoga membantu dan bermanfaat.
Salam Hangat,

Apa saya Kleptomania ?

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Dari : Ayu

Saya mempunyai masalah Sejak saya smp saya punya kebiasaan mengambil barang milik orang walaupun saya dapat membelinya, karena saya disitu merasa senang apalagi jika tidak ketahuan walaupun barang itu akhirnya tidak digunakan. Sudah sekitar 8 tahun lamanya saya begitu namun saat saya didekat orang tua saya menahan mati”an agar orang tua saya tak malu, dulu saya pernah mau dibawa ke psikiater namun saya menolank dengan ngamuk dan menangis. Saat ini saya kuliah jauh dari orang tua saya mulai terbiasa lagi seperti itu dan pada hari ini saya kedapatan mencuri oleh petugas namun saya dapat berdamai tanpa ikut campur orang tua saya. Saya tidak merasa bersalah namun saya menangis karena saya takut jika orang tua saya tau dan jika mereka melaporkan saya ke institusi saya dan saya takut saya akan dikeluarkan karena saya sudah mahasisiwa tingkat akhir dan saya takut itu akan membuat kecewa orang tua saya. Saat ini saya sangat sangat merasa takut ketahuan institusi saya karena hanya 4 bulan lagi saya lulus dan saya tidak ingin dapat masalah, saya sangat ketakutan jika teman-teman saya menjauhi saya. Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak bisa bercerita pd orang karena mereka pasti membenci saya. Tolong bantu saya. Terimakasih

Jawaban

Terima kasih telah berbagi cerita dengan Psikolog Online, saya bisa memahami bagaimana perasaan khawatir dan ketakutan ayu apabila kebiasaan ayu diketahui oleh teman-teman, dilain sisi ayu ingin menghilangkan kebiasaan tersebut namun disisi lain ayu tidak kuasa menahan dorongan untuk mengambil barang milik orang lain. Dari cerita ayu diatas kemungkinan besar ayu mengalami kleptomania, kleptomania merupakan gangguan ketidakmampuan mengendalikan implus, dalam DSM kleptomania yang dicirikan dengan 1) kegagalan dalam mengendalikan dorongan untuk mengambil suatu benda, dimana benda tersebut kadang tidak digunakan untuk kepentingan pribadi dan kurang memiliki nilai ekonomi. 2) Mengalami ketegangan/kecemasan sebelum mengambil benda. 3) Merasa nyaman dan puas setelah melakukan pencurian. 4) Perilaku mencuri bukan ekspressi dari rasa marah dan balas dendam. Namun ayu tidak perlu khawatir karena sebenarnya perilaku ini bisa diatasi asalkan ada kemauan untuk berubah, pemahaman yang cukup mengenai kleptomania, dan mengenali kebutuhan diri ayu sendiri.

Ada banyak penyebab Kleptomania namun secara garis besar dapat disebabkan  karena rendahnya kontrol diri. Terdapat dua aspek yang mempengaruhi perkembangan kontrol diri, yaitu aspek internal (usia dan kematangan) dan eksternal (meliputi lingkungan keluarga).  Kontrol diri dibentuk pertama kali dalam lingkungan keluarga, kontrol diri telah dibentuk sejak masa bayi dan mulai terlihat jelas ketika menginjak usia 3 tahun saat anak mulai menolak atau mengemukakan keinginan ke orang tua. Apabila lingkungan keluarga tidak mendukung terbentuknya kontrol diri yang baik, misalnya pola asuh yang otoriter, orang tua terlalu membatasi kemauan anak atau pola asuhpermissive dimana orang tua terlalu membebaskan anak sehingga anak bertingkah laku semaunya tanpa batasan-batasan maka hal tersebut akan mempengaruhi ketidak mampuan mengendalikan keinginan atau dorongan anak, jika tidak diberikan aturan dan batasan yang jelas mengenai perilaku maka besar kemungkinan kontrol diri anak akan rendah. Psikoterapi yang diberikan pada penderita kleptomania akan sangat bervariasi dan tergantung dengan penyebab utamanya. Namun langkah awal yang bisa ayu coba adalah mengenali diri sendiri, bisa dengan melakukan meditasi dan apabila rasa tegang (tidak nyaman) muncul yang mendorong untuk mengambil benda maka segera fokuskan pada nafas, atur nafas secara berlahan, tahan nafas beberapa detik dan hembuskan berlahan, ulangi pernapasan dalam ini beberapa kali sampai rasa tegangan berkurang, apabila rasa tegang sudah berkurang, ayu boleh pergi dari lingkungan atau menghindari benda yang ingin ayu ambil, untuk menghindari muncul kembali ketegangan tersebut jangan lupa setelahnya salurkanlah dorongan tersebut pada kegiatan yang positif, seperti olahraga atau melakukan aktifitas lain yang bermanfaat.

Let’s Talk With Us

Image

Punya masalah dan tidak berani untuk mengungkapkannya atau malu bercerita dengan teman maupun keluarga. Sekarang tidak perlu merasa malu atau takut lagi, karena kami Psikologi Online memiliki layanan konsultasi gratis yang siap mendengarkan dan membantu anda memahami serta melihat permasalahan yang anda hadapi dengan lebih berani.

Karena dengan berbagi akan membuat anda menjadi lebih tenang, mengeluarkan emosi, pikiran, dan perasaan menurut penelitian dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dibandingkan dengan hanya memikirkan permasalahan anda sendirian. So, sekarang jangan merasa sendiri lagi ya, berbagilah sedikit permasalahan anda dengan kami.

Salam Hangat,

Konsultasi Psikologis

Artikel

Bagi anda yang memiliki permasalahan psikologis dan membutuhkan bantuan psikolog, kami menawarkan layanan jasa konsultasi tatap muka dengan psikolog profesional. Keuntungan menggunakan layanan kami adalah klien memiliki kebebasan untuk menentukan lokasi konsultasi dan kami juga melayani home visit atau mendatangi rumah klien. Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan konsultasi anda dapat menghubungi kami melalui email help@psikologionline.com